Bunuh Diri, Merasa Diri Tidak Berarti…

Kompas, Jumat, 20 Juli 2007

Bunuh Diri, Merasa Diri Tidak Berarti…

Atika Walujani Moedjiono

Kasus bunuh diri di kalangan remaja meningkat, setidaknya itu yang terekam oleh media massa. Pemicunya macam-macam: dari yang tidak lulus ujian, tidak mampu membayar iuran sekolah, sampai yang tampak sepele, seperti berebut mainan, seragam masih basah, tidak dibelikan telepon seluler, atau tidak boleh naik motor. Pertanda apakah itu?

Menurut Dwidjo Saputro, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Klinik Perkembangan Anak dan Kesulitan Belajar, umumnya anak atau remaja bunuh diri karena ada stresor psikososial. Itu bisa berupa tekanan dari keluarga, lingkungan, atau kondisi sosial ekonomi yang rendah.

Remaja merupakan kelompok labil karena sedang dalam fase perkembangan kepribadian. Remaja berada dalam pencarian kepastian hidup, misalnya mengenai masa depan, identitas diri, apa yang akan dikerjakan dalam hidup. Jika pengalaman yang ada tidak sesuai dengan harapan, anak akan merasa tidak ada kepastian diri, tidak memiliki masa depan sehingga remaja merasa tidak berarti.

Dwidjo menambahkan, lingkungan sangat berperan. Anak yang tidak berkembang secara optimal dan kurang mendapat dukungan kondusif dari keluarga dan lingkungan akan tumbuh menjadi remaja yang tidak tangguh. Bentuknya, remaja bertindak nakal, atau sebaliknya berupaya bunuh diri.

Ika Widyawati, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga Ketua Asosiasi Kesehatan Jiwa Batita Indonesia, menyebutkan, sebenarnya sejak bayi manusia rentan terhadap stres. Hal itu terjadi karena selama dalam kandungan bayi merasa hangat dan semua kebutuhan, termasuk zat gizi, terpenuhi. Bayi menangis saat dilahirkan karena mengalami syok pertama, terpapar udara dingin.

Pola asuh

Dalam masa pertumbuhan, anak memerlukan pengasuhan orangtua. Penelantaran pada anak bisa mengganggu proses tumbuh kembang anak. Pola asuh yang tidak baik menyebabkan ikatan ibu-anak menjadi rusak dan anak terancam depresi.

Contoh klasik adalah anak yang hidup di panti asuhan sejak bayi. Mereka tidak menunjukkan reaksi saat disentuh. Hal ini merupakan tanda depresi. Gejala depresi lain adalah bayi tidak mau makan, berat badan turun, malnutrisi, rewel, dan tidur terganggu.

Jika terdeteksi pada usia kurang dari 6 bulan dan segera diterapi, bayi akan pulih. Di atas usia 6 bulan bayi depresi akan menjadi pendiam, frustrasi, dan menarik diri. “Pada masa ini gangguan sulit disembuhkan. Angka kematian mencapai 30 persen,” ungkap Ika.

Penelantaran bayi umumnya terjadi pada masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah. Pasalnya, ibu harus bekerja dan tidak mampu menyediakan pengasuh pengganti. Kalaupun ada, kualitas pengasuhan tidak memadai. Tidak tertutup kemungkinan hal ini terjadi pada kalangan sosial ekonomi tinggi. Bayi hanya diberi susu dan kebutuhan fisik, tanpa perhatian dan stimulasi yang dibutuhkan.

Pentingnya pola asuh juga dikatakan Dashriati, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan.

Menurut dia, usia 0-6 tahun merupakan masa emas perkembangan anak. Ada tiga tahap. Usia 0-1,5 tahun merupakan tahap pembentukan kepercayaan pada lingkungan. Jika hubungan orang tua-anak baik, anak akan mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Usia 1,5-3 tahun adalah tahap otonomi diri. Anak mengembangkan diri dengan mengeksplorasi lingkungan dan menentukan keinginan. Hambatan pada proses ini, misalnya anak sering dilarang, menyebabkan anak tidak mandiri dan tidak terbiasa menyelesaikan masalah. Hal ini terlihat di masa remaja.

Selanjutnya, usia 3-6 tahun merupakan tahap inisiatif. Anak mencoba melakukan banyak hal dan mengharapkan respons positif orangtuanya. “Orangtua perlu memfasilitasi tahap-tahap perkembangan itu agar anak tumbuh mandiri, mampu menyelesaikan masalah serta tidak mudah depresi,” katanya.

Ika melihat pentingnya posyandu untuk memantau tumbuh kembang bayi. Jika ada bayi yang tidak naik berat badan perlu dilihat penyebabnya. Apakah ada gangguan fisik atau ada depresi. Jika diketahui secara dini bisa segera diatasi.

Menurut Dashriati, Depkes telah menyusun pelbagai buku mengenai pola asuh dan perkembangan anak untuk disebarkan ke petugas kesehatan, sekolah, dan masyarakat.

Selain pola asuh, lanjut Ika, faktor genetik dan gangguan kesehatan jangka panjang, seperti kanker darah, diabetes tipe 1, hemofilia, dan talasemia, juga bisa menyebabkan depresi. Hal lain adalah meningkatnya faktor pencetus, misalnya beban pelajaran sekolah, tekanan mental dari sekolah, orangtua, teman.

Anak cemas

Hal senada diungkapkan Dwidjo. Menurut dia, saat ini terjadi peningkatan jumlah anak yang mengalami kecemasan akibat sekolah. Wujudnya anak mogok sekolah, sakit perut, mual, muntah.

Menurut Dwidjo, peningkatan jumlah dan jenis fasilitas sekolah tidak menjamin anak makin sehat. Ada tren untuk menyekolahkan anak balita. Padahal, belum tentu semua tenaga pengajar memiliki cukup pengetahuan mengenai aspek perkembangan anak.

Akibat masuk sekolah sebelum waktunya, dunia bermain anak hilang. Anak kehilangan kesempatan mengembangkan kecerdasan emosi, spiritual, fisik, seni, serta potensi lain demi mengejar aspek kognitif.

Untuk mencegah kasus bunuh diri, perlu diberdayakan orang- orang yang punya otoritas, misalnya guru sekolah (Bimbingan dan Penyuluhan/BP) serta pemberian pelajaran budi pekerti.

“Bunuh diri merupakan puncak dari frustrasi. Pelaku merasa tidak ada solusi terhadap masalahnya, tidak ada harapan. Pencetusnya sering kali tampak sepele. Tetapi, sebenarnya ada masalah yang terakumulasi sejak lama,” papar Ika.

Masyarakat dan guru perlu memahami gejala depresi sehingga bisa mendeteksi agar anak segera mendapat pertolongan.

Menurut situs American Psychiatric Association, gejala depresi yang perlu diwaspadai antara lain penurunan prestasi sekolah, kehilangan minat untuk beraktivitas, ledakan kemarahan, keluhan, sering menangis, berpikir untuk bunuh diri, menunjukkan gejala khawatir berlebihan atau ketakutan, bersikap agresif, sering mengeluh sakit pada kaki, tangan atau perut tanpa sebab.

Sebagaimana dicantumkan dalam mukadimah Konvensi tentang Hak-hak Anak, untuk perkembangan kepribadian yang penuh dan serasi, anak harus tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarganya dalam suasana kebahagiaan, cinta, dan pengertian. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan, anak akan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: