Gugatan Saat Kemerdekaan Emas

Kompas, Jumat, 31 Agustus 2007

Gugatan Saat Kemerdekaan Emas
Membenahi Kebijakan Berbau Diskriminasi demi 50 Tahun Kedua

Merayakan kemerdekaan emas dapat dipahami sebagai bagian dari ucapan syukur atas apa yang sudah diraih. Namun, bagi sebuah negara seperti Malaysia, usia 50 tahun merdeka harus juga menjadi bagian dari refleksi dan introspeksi apakah masih ada yang harus diperbaiki untuk bisa meraih 50 tahun kedua yang lebih baik?

Tak bisa disangkal, Malaysia mencatat sebuah pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran yang luar biasa. Pertumbuhan ekonomi yang rata-rata 5,62 persen dalam lima tahun terakhir dan diperkirakan 6 persen pada tahun 2007 membuat pendapatan per kapita Malaysia kini 12.000 dollar AS (sekitar Rp 114 juta) per tahun.

Pendapatan yang jauh dari 4.000 dollar AS pendapatan per kapita Indonesia itu yang membuat 1,5 juta tenaga kerja Indonesia (TKI) resmi menggantungkan hidup mereka di Malaysia. Angka ini bisa beberapa kali lebih besar karena lebih banyak TKI yang ilegal.

Sembari berterima kasih atas peluang kerja ini, gugatan pantas diketengahkan berkaitan dengan tidak sedikitnya cerita buruk datang dari Malaysia yang memperlakukan para TKI sebagai “manusia kelas dua”. Disiksa, diperkosa, dibunuh, menjadi kisah yang menggambarkan TKI bukan lagi manusia di mata sebagian warga Malaysia.

Hal itu diiyakan 27 juta penduduk Malaysia, setidaknya terlihat dari tak ada kecaman atas perlakuan kasar pada para TKI. Juga terlihat dari sebutan “indon” bagi TKI yang berkonotasi negatif dan kini menjadi bagian dari laporan media massa serta dalam percakapan sehari-hari.

Tak peduli adanya keberatan tertulis KBRI ke media massa Malaysia yang menggunakan “indon”. Sekalipun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan keberatan langsung ke PM Abdullah Ahmad Badawi di Kuala Lumpur, Mei 2007.

Diskriminasi

Gugatan soal nasib buruk sejumlah TKI bakal menjadi cerita buruk pada 50 tahun kedua jika tak segera dibenahi. Sedikitnya setiap pelaku kekerasan atas TKI harus dihukum. TKI harus dilihat sebagai bagian dari kesuksesan ekonomi Malaysia. Suatu yang dihargai bukan sekadar memberi upah, tetapi juga dalam perlakuan manusiawi.

Soal nasib buruk TKI menjadi bagian dari isu rasial yang kian kental karena adanya praktik diskriminasi. Sebuah gugatan lain di pesta emas kemerdekaan Malaysia. Etnis Melayu mendominasi 60 persen dari 27 juta penduduk, tetapi 40 persen etnis China dan India juga bagian yang tak bisa terpisahkan begitu saja. Diskriminasi jelas bukan langkah yang bijak.

Diskriminasi dalam praktik ekonomi, sosial, dan budaya (agama) merupakan gugatan lain yang harus dibenahi Malaysia untuk bisa memapak 50 tahun kedua dengan lebih gemilang. “Apabila ini menjadi indikator pada 50 tahun merdeka, saya tak ingin melihat era 50 tahun kedua karena situasi bisa lebih buruk,” ujar P Ramasamy, ahli politik dan mantan pengajar di Nasional University of Malaysia, kepada AFP.

Kebijakan pro-Melayu sejak tahun 1971 antara lain berupa New Economic Policy (NEP/Kebijakan Ekonomi Baru), sekalipun sudah direvisi, tetap saja sebuah pro dan kontra. Bahkan, kini perlakuan diskriminasi ini mengkristal hingga hubungan antarmanusia, Melayu dengan China dan India.

Persinggungan antarmanusia yang tak mungkin terelakkan karena mereka bagian dari 40 persen populasi. Mereka dengan segala atribut agama, warna kulit, dan karakter berinteraksi setiap hari. Tidak sedikit akan tercipta kecocokan, di mana yang satu memilih melebur kepada yang lainnya.

Persoalan pun muncul saat Melayu ingin melebur ke etnis China dan India. Namun, sebaliknya, semuanya mulus saat China dan India melebur ke Melayu. Suatu yang tak setimpal. “Malaysia tidak mengembangkan integrasi rasial, tetapi sebuah pertarungan rasial,” ujar Ooi Kee Beng, analis dari Institute of Southeast Asian Studies di Singapura.

Perlakuan diskriminasi ini sebuah gugatan besar jika Malaysia ingin melangkah gemilang untuk 50 tahun kedua. Diskriminasi pada dasarnya awal sebuah pertikaian, bahkan dalam kehidupan yang paling kecil seperti dalam keluarga. (ppg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: