Guru Kebangsaan Harry Roesli

memoar Guru Kebangsaan Harry Roesli
Liston P. Siregar

Terbetik berita duka lara tentang negeri kita yang tercinta
Negeri tercinta, negeri tercinta, negeri tercinta…

Harry Roesli –lahir Bandung 10 September 1951 dan meninggal dunia Jakarta 11 Desember 2004– adalah orang yang paling berhasil mengajarkan saya –dan mungkin juga orang-orang lainnya— tentang perasaan kebangsaan yang sebenarnya. Dia memang lebih dikenal sebagai seniman badung, tapi buat saya dan abang saya –yang mengenalkan kaset-kaset Harry Roesli tahun 1980-an awal di Medan– Harry Roesli lebih sebagai negawaran yang mewariskan perasaan kebangsaan kepada generasi berikutnya.

Dan perasaan kebangsaan itu jujur dari dalam hati.

Ketika kelas 5 atau 6 SD Tahun 1970-an, satu kali satu minggu kami digusur ke halaman sekolah; berbaris lurus sambil menyanyikan mars nasional di bawah panduan Pak Pasaribu. Yang paling membosankan adalah Padamu Negeri, dan yang paling seru –sambil berjalan di tempat dengan kaki yang dihentakkan dengan seragam dan mantap– adalah Maju Tak Gentar. Sampai sekarang, saya masih bisa ingat sebagian besar dari naskahnya; ‘Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami,’ misalnya, atau `Maju Tak Gentar, Membela Yang Benar.’

Masuk ke SMP ada rasa enggan, tapi setiap upacara bendera Senin paling tidak satu lagu keluar juga di bawah pengawasan ketat para guru. Dengan mulai munculnya benih-benih karakter remaja yang sok memberontak, rasanya ada lomba untuk tidak bisa menyanyikan secara benar dan bersemangat. Semakin lesu, semakin tak bersemangat, semakin pelan suara, maka semakin jago pulalah rasanya.

Sementara abang saya, Martin, berhasil meminjam copy Ken A Rok-nya Harry Roesli, dan di kaset itu, saya ingat betul temannya menulis Can A Rock –yang saya tiru lagi ketika mencopy kaset itu ke CD pada tahun 2005. Ken A Rok adalah musik beneran dan intelek karena diambil dari sejarah –begitulah sok-soknya saya mengikuti pemikiran abang saya dan kawan-kawannya.

Dari Can A Rock itu pula, saya mengikuti sebisa mungkin pelajaran kebangsaan Harry Roesli –tentang suap dan pajak pendapatan oleh para aparat kerajaan– dan ditutup ketika kuliah di Semarang dengan album Zaman –’..kirimkanlah salam rindu pada Indonesia.’

Lirik yang menuturkan sebuah negeri, sebuah bangsa, sebuah kehidupan warga, atau sebuah cengkraman negara atas warganya yang mengangkat sentimen akan sebuah komunitas, sebuah kelompok bangsa.

Waktu mewawancarai Kania Roesli untuk mengenang Harry Roesli sepekan setelah wafatnya, saya menutup dengan pertanyaan lagu-lagu apa yang menjadi kegemaran Kania. “Saya suka lagu-lagunya yang bertema kebangsaan,” kata Kania, yang jelas tidak tahu bahwa saya adalah salah satu murid setia dalam pelajaran kewarga-negaraan Harry Roesli.

Memang saya masih bisa menyanyikan lengkap lagu Indonesia Raya pada tanggal 17 Agustus 2005 sambil nyetir mengantar anak saya periksa mata –dan anak saya yang berumur 10 tahun geleng-geleng kepala. Itu bukti nyata dari keberhasilan indoktrinasi di jaman SD, SMP, dan SMA di Medan dulu. Tapi terasa jarak antara Indonesia Raya dan seorang warga negara Indonesia.

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru Indonesia bersatu.

Amat heroik, tapi sulit sekali rasanya menempatkan diri dalam seluruh perasaan kebangsaan itu, selain sebagai penerima yang pasif dan mengabdi sepenuhnya. Terasa sekali berjarak, walau –seingat saya– setidaknya pernah satu kali saya bergemetar juga menyanyikannya; ketika resmi dilantik menjadi Penggalang Ramu di hadapan bendera merah putih dengan seragam Pramuka.

Tapi kebanyakan rasanya kering-kering saja, apalagi ketika mulai muncul kesadaran bahwa pada jaman rejim Orde Baru Suharto itu perasaan kebangsaan telah dimonopoli dan diperkosa habis-habisan oleh sekelompok politisi dan tentara korup. Ranculah sudah kebangsaan dengan negara, pemerintah, Golkar, penindasan, kesewenang-wenangan dan –yang paling nyata– korupsi.

Dan pelajaran kebangsaan Harry Roesli jadi amat relevan.

Terbetik berita duka lara tentang negeri kita yang tercinta
Negeri tercinta, negeri tercinta, negeri tercinta…

Walau sudah terabik-cabik oleh Suharto, Golkar, dan TNI, rasanya Indonesia tetap saja sebagai negeri tercinta. Memang lirik itu tidak langsung mendorong untuk menyusun orasi tentang demokratisasi atau membuat selebaran gelap untuk menggulingkan triumvirat Orde Baru, tapi ada perasaan memiliki sesuatu –yang sebenarnya amat abstrak.

Dan dalam ketidak-berdayaan, Harry Roesli sepertinya menawarkan ketegaran

Janganlah menangis Indonesia
Janganlah bersedih Indonesia
Kami berdiri menjagamu pertiwi

Memang Harry Roesli bisa juga tak kalah heroiknya dengan para politisi jaman Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi, Orde GD, Orde Mega atau Orde SBY-Kalla.

Merah darah dan putihnya yang suci
Kami bela sampai mati
Tegak dan tegar kami menjagamu sang saka
Semangat hanya untuk ibu pertiwi
Indonesia kau abadi

Ini sebenarnya bagian yang paling tidak saya suka karena tiba-tiba Harry Roesli agak mirip dengan dosen Kewiraan, namun karena lirik itu disenandungkan dengan alunan yang cukup indah, ya bolehlah.

Padahal kecintaan bisa disampaikan juga dengan puitis, yang membuat orang menjadi tidak perlu berjarak. Sebuah cinta yang rasanya dipersembahkan kepada sesuatu yang nyata, seperti kepada pacar, seperti kepada istri, kepada anak-anak. Harry Roesli mengajarkan rasa kebangsaan secara puitis dan indah.

Melihat tanah Indonesia
Diinjak dan didera
Hatinya berkata
Akupun tidak rela
Angin kering berlalulah segera
Karena kami cinta
Kami cinta Indonesia

Sering sekali Harry Roesli tak menyebut Indonesia, namun terasa –paling tidak buat saya– rujukannya kepada sebuah komunitas milik bersama.

Bertiup engkau angin dan bertiup kencang
O bisikan pada dia, si pemegang adalat
Dan bawalah kesejukan bersamamu sekarang

Atau

Mereguk renungan
Rindu pada tanah tercinta
Halimun yang putih turun ke bumi
Dia jatuh tak bersuara

Saya sudah sepuluh tahun tinggal di negeri orang –untuk mencari nafkah– namun setiap tahun masih ada kesempatan berkunjung ke kampung halaman, ke negeri tercinta, ke Indonesia. Situasi itu membuat Harry Roesli tak akan mungkin terlupakan sebagai guru kebangsaan saya, dan hati saya selalu disejukkan mendengar pelajaran kebangsaannya.

Terbanglah engkau burung, terbanglah segera
Engkau bebas, kau merdeka
Dan ceritakan pada dunia, apa yang engkau alami o di sini, negeri ini

Jauh di rantau, di dunia abad 21 yang katanya semakin tidak perduli dengan batas-batas geografis, budaya, dan politis, saya diberi hak penuh oleh guru saya, Harry Roesli, untuk tetap memiliki negeri tercinta.

http://www.ceritanet.com/107harry.htm

ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis edisi 107 rabu 17 agustus 2005, po box 49 jkppj 10210

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: