Kesejahteraan Sosial

KOMPAS, Senin, 03 September 2007

Kesejahteraan Sosial
Pendidikan dan Karakter Kebangsaan
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/03/humaniora/3779259.htm

Komaruddin Hidayat

Perayaan 62 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia baru saja selesai kita
peringati, tetapi bangunan bangsa kian rapuh sehingga mengakibatkan
kemerosotan, terutama di dunia global. Sebabnya, lagi-lagi pendidikan yang
terbengkalai.

Padahal, di belahan dunia yang lebih maju, generasi muda bukan saja
semakin berperan, tetapi juga semakin kaya dan berkuasa. Sebut saja Sergei
Brin dan Larry Page, dua pemuda berumur 28 dan 30 tahun yang mendirikan
Google kurang dari sepuluh tahun yang lalu dan saat ini berada di jajaran
orang paling kaya di dunia.

Demikian juga dengan Tom Anderson dan Chris deWafe yang mendirikan
MySpace, situs social networking paling populer yang akhir tahun lalu
dibeli oleh Intermic Media senilai 580 juta dollar AS hanya dalam waktu
dua tahun sejak situs tersebut pertama kali diluncurkan.

Sebut lagi Steve Chen (28), Chad Hurley (29), dan Jawed Karim (28), yang
mendirikan Youtube, situs video networking dua tahun yang lalu. Ketiga
pemuda itu baru-baru ini menjual Youtube senilai 1,65 miliar dollar AS
atau sekitar Rp 10 triliun kepada pihak Google.

Fenomena ini harusnya membuka mata kita bahwa dunia dan kehidupan tidak
lagi berjalan, tumbuh, dan berkembang secara tradisional. Setiap hari
harus ada inovasi baru yang diperkenalkan dan diterapkan yang pada
akhirnya mengubah cara dan gaya hidup secara drastis.

Agar kita bisa ikut tumbuh dan berkembang secara optimal, seorang manusia
apalagi suatu bangsa membutuhkan kemauan dan kemampuan adaptasi yang tidak
saja baik, tetapi juga kompetitif.

Budaya yang kuat

Bangsa yang maju memiliki budaya yang kuat atau bahkan ekspansif karena
mampu menularkan budayanya kepada bangsa lain. Dengan kata lain, tanpa
budaya yang kuat, suatu bangsa bisa jadi hilang ditelan, dipengaruhi,
dikuasai, atau bahkan ditinggalkan oleh peradaban yang lebih besar dan
lebih kuat.

Dalam rangka perayaan 62 tahun kemerdekaan Indonesia dari belenggu
penjajahan, mari kita bertanya, budaya Indonesia yang mana yang kita
miliki dan perlu kita kembangkan untuk meningkatkan peran dan kontribusi
Indonesia di peradaban Asia atau bahkan dunia saat ini? Susah menjawabnya.

Mengapa karakter kebangsaan Indonesia semakin luntur atau setidaknya
’kabur’ sampai kita sendiri susah untuk mengenalinya?

Itu tidak lain karena sistem pendidikan di Indonesia tidak dikemas dan
ditujukan untuk membangun suatu karakter budaya yang kuat. Sistem
pendidikan nasional masih berorientasi pada pembangunan fisik, bukan
pembangunan jiwa dan karakter kebangsaan.

Akibatnya, dana pendidikan belum dapat mengikuti amanah UUD 45 yang
seyogianya mencapai 20 persen dari keseluruhan anggaran pembangunan
nasional. Namun, demi kepentingan masa depan anak cucu bangsa dalam 30
tahun ke depan, Indonesia butuh solusi, yang pragmatis, kreatif, dan
segera.

Pragmatis dalam arti solusi tersebut harus betul-betul mengatasi masalah
pembiayaan yang dibutuhkan sektor pendidikan nasional.

Kreatif dalam arti solusi tersebut tidak boleh lagi-lagi membebani
keuangan negara yang sudah hampir lumpuh dibebani utang.

Segera dalam arti solusi tersebut ada di sekitar kita dan dapat segera
diciptakan, diterapkan, dan disempurnakan terus- menerus.

Melibatkan pihak swasta

Caranya adalah dengan melibatkan dan mengarahkan pihak swasta. Perusahaan
swasta, terutama multinasional, memiliki kemampuan dan kepentingan untuk
membiayai peningkatan kualitas pendidikan anak bangsa. Selain itu, swasta
justru lebih peka dan lebih cepat bertindak dibandingkan dengan pemerintah
dalam hal mengenali dan mengatasi permasalahan sosial di sekitar wilayah
usahanya.

Terakhir, perusahaan swasta, baik lokal maupun multinasional, memiliki
pengaruh profesionalisme, konsistensi, dan semangat bersaing yang sangat
penting untuk ditularkan terhadap insan pendidikan di seluruh Tanah Air.

Contohnya adalah kegiatan “Berbagi 1.000 Kebaikan” yang diadakan oleh PT
Unilever Indonesia (ULI) melalui merek es krim Walls yang akan
menyumbangkan Rp 1.000 dari setiap kotak es krim Viennetta Kurma dan
varian lainnya terjual. Dana yang terkumpul dari konsumen Vienneta Kurma
akan disumbangkan kepada anak-anak putus sekolah melalui Dompet Dhuafa.

Unilever Indonesia, sebagai salah satu perusahaan multinasional terbesar,
justru memilih cara yang sangat lokal untuk tetap memimpin di pasar
global, yaitu dengan memilih kebutuhan lokal untuk dipenuhi dengan cara
lokal pula.

Kegiatan sosial yang telah dilakukan oleh Vienetta Kurma layak untuk
dicontoh. Akan lebih baik lagi bila banyak perusahaan yang memiliki
kepedulian yang sama sehingga dapat berbagi 1.000 kebaikan bagi
pendidikan.

Sementara itu, bila Walls fokus kepada perkembangan dan pertumbuhan
anak-anak dalam pendidikan, barangkali dapat menjadi inspirasi bagi
perusahaan lain untuk memikirkan guru-guru sebagai orang yang memiliki
peran penting dalam mendidik generasi kita di masa mendatang.

Guru juga perlu untuk diberikan pendidikan dan pelatihan agar mereka dapat
meningkatkan kualitas dan motivasi mereka dalam mengajar.

Hal ini penting karena nasib guru di Indonesia sangat menyedihkan, baik
dari segi pendapatan maupun pelatihan. Akibatnya, banyak guru yang merasa
minder dan tidak memiliki kepercayaan diri yang positif ketika menghadapi
anak muridnya, terutama yang datang dari kalangan menengah atas.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan nasional tidak pernah berfungsi seperti
filosofi “busur panah” yang diperkenalkan Kahlil Gibran. Artinya, sistem
pendidikan seharusnya bisa menjadi busur yang membuat setiap anak panah
melesat sejauh-jauhnya dan sedalam-dalamnya ke jantung tujuan.

Ke depan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan kualitas sistem
pendidikan nasional harus menjadi ukuran keberhasilan dari setiap elemen
masyarakat, baik tokoh agama, bisnis, politik, sosial, maupun
pemerintahan.

Selain itu, perusahaan lokal dan multinasional yang memang menunjukkan
komitmen nyata, pragmatis, dan solution-oriented terhadap masalah
pendidikan harus diberi beragam insentif.

Suka atau tidak, pengertian kompetisi semakin bergeser ke arah penciptaan,
perlindungan, dan penerapan kemampuan intelektual atau human capital di
seluruh dunia. Siapkah Indonesia untuk itu?

Jawabannya adalah, pemerintah bersama pihak swasta harus bersama-sama
memprioritaskan pendidikan… pendidikan… pendidikan.

Komaruddin Hidayat Rektor Universitas Islam Negeri, Syarif Hidayatullah
Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: