Penghargaan Bakrie dan Makna Penolakan Magnis

Koran Tempo, Sabtu, 01 September 2007

Penghargaan Bakrie dan Makna Penolakan Magnis

M. Fajar, alumnus Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia

Penolakan Romo Frans Magnis Suseno terhadap Achmad Bakrie Award oleh Freedom Institute cukup menjadi perbincangan menarik. Dalam kadar berbeda, resistensi karena alasan yang hampir serupa pernah dilakukan oleh sastrawan W.S. Rendra dalam pidato penerimaan penghargaannya. Ia memprotes semburan yang diakibatkan kecerobohan PT Lapindo yang membuat rakyat Sidoarjo menderita.

Dengan penolakan tersebut, semakin jelas pula unit-unit yang terkait dengan Bakrie Group sulit lepas dari beban yang ditinggalkan PT Lapindo, baik citra buruk maupun tanggungan finansialnya. Di sini, bila kita jeli, keterkaitan Freedom Institute dengan Grup Bakrie dapat kita gugat atas nama relasi kuasa antara intelektual dan modal. Suatu hubungan yang sebenarnya bisa dikatakan “kemesraan baru tapi lama” dan telah berlangsung menjadi pola ajek di republik ini.

Penulis pada titik ini ingin berangkat dari persilangan antara intelektual dan modal di masa lalu Indonesia sehingga di kemudian hari, jika masih terjadi resistensi terhadap hal serupa, kita dapat mengetahuinya dalam kerangka yang lebih luas. Tidak sekadar terjebak pada sisi argumen penolakannya, tapi juga mencapai ranah yang di dalamnya secara historis-struktural terdapat kondisi obyektif lain yang melatarbelakangi alasan penolakan Magnis terhadap penghargaan itu.

Teknokrat Orde Baru

Pada era ini, siapa saja yang tertarik pada perbincangan mengenai intelektual seharusnya tidak asing dengan beberapa studi terkemuka mengenainya. Daniel Dhakidae, misalnya, dalam buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru secara jelas memperlihatkan relasi kekuasaan yang menopang kongsi intelektual, negara, dan modal. Perselingkuhan ketiganya dipraktekkan ketika mereka mendekatkan diri pada kuasa modal dan mengorbankan integritas ilmu pengetahuan. Selain itu, upaya menginduk pada negara juga absah demi keperluan kekuasaan untuk mengimplementasikan teori di ruang perkuliahan menjadi preskripsi bagi masyarakat.

Contoh bagus mengenai pola ini kita saksikan lewat keberadaan para mafia Berkeley. Dalam tiap babak sejarah kebijakan ekonomi Orde Baru, mereka jarang sekali absen memberikan kontribusi. Mereka lahir saat rezim pembangunan Soeharto dimulai pasca-Gestapu 1965. Orientasi kepada model pembangunan Barat dan investasi kapital secara masif ditambah rezeki minyak memperkuat basis ekonomi politik bagi penguatan negara.

Sumber daya yang melimpah ditarik oleh garis lurus Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan menghasilkan rezim otoriter birokratik (authoritarian bureaucratic regime) yang senantiasa lapar akan legitimasi berbagai elemen di masyarakat–bagi mulusnya pembangunan (dan kedudukan politik mereka). Korporatisme negara menjawab kebutuhan tersebut dengan menyerap kekuatan-kekuatan politik di luar rezim, termasuk di antaranya kaum intelektual. Para mafia Berkeley bukan perkecualian dari proses tersebut.

Julukan mafia itu sendiri terus mendapat aktualisasinya. Secara gramatologis, sebutan lain, yaitu “episteme liberal”, yang dipopulerkan Rizal Mallarangeng, salah satu punggawa Freedom Institute, dalam disertasinya berjudul Mendobrak Sentralisme Ekonomi: Indonesia 1986-1992. Sekalipun mencakup spektrum yang lebih luas (pemimpin media massa, sastrawan, seniman, dan lain-lain) tanpa mengubah signifikansinya, teknokrat masih diberi porsi yang cukup besar mendorong berlakunya kebijakan deregulasi tahun 1980-an di buku tersebut.

Peranan mereka muncul di tengah perseteruan vis a vis teknokrat nasionalis di bawah eksponen seperti B.J. Habibie dan Ginandjar Kartasasmita. Di tengah krisis minyak yang menerpa pada akhir 1970, pergulatan menentukan arah pembangunan Indonesia tanpa harus bersandar pada komoditas minyak dan gas semakin sengit. Seperti diketahui kemudian, era deregulasi akhirnya merupakan jalan keluar yang dipilih Indonesia. Intelektual barisan “episteme liberal” termasuk motor bagi terpilihnya kebijakan keterbukaan yang berkarakter liberal.

Dalam sejarah relasi intelektual, negara, dan modal di zaman Orde Baru, kita dapat mengerti gambaran besar bahwa keterserapan intelektual ke dalam negara dan modal sulit dihindarkan. Gigantisme negara Orde Baru membutuhkan pasokan energi yang melimpah. Intelektual dan kekuatan politik lainnya tersedot dalam pusaran negara yang berusaha menjaga ritme pembangunannya. Di tengah pusaran inilah posisi intelektual menjadi terombang-ambing dalam poros tarik-menarik kubu aksis kepentingan negara-kapital dan kubu rakyat (demos).

Intelektual reformasi

Kembali ke era kontemporer, ingatan kita seolah disegarkan oleh peristiwa penolakan Magnis. Gugatan tersebut sudah seharusnya diterjemahkan ke dalam dua kondisi. Pertama, kondisi intelektual ketika keberpihakan atas rakyat merupakan kodrat utamanya. Kedua, aliansi intelektual dan modal (juga negara) kembali hadir pada konfigurasi Freedom Institute-Bakrie Group.

Kritisisme lanjutan dapat diajukan mengenai efek modal yang berpengaruh menentukan keberpihakan intelektual terhadap demos. Di mana posisi Freedom Institute dalam kasus Magnis dan Rendra? Relevansi kritik yang sama bisa ditujukan ke intelektual yang selama era demokratisasi terjebak dalam pola relasi yang sama. Sejauh ini, nama Nazaruddin Sjamsuddin, Mulyana W. Kusumah, dan Rokhmin Dahuri adalah daftar sementara metafor intelektual yang terjebak di pusaran negara-modal.

Daftar berikutnya tentu saja diharapkan tidak bertambah akibat kecerobohan para cendekiawan, golongan yang sering kali disebut berumah di menara gading. Mereka tidak harus terjerumus melalui narasi-narasi besar seperti kasus Lapindo, tapi juga fragmen-fragmen di lingkungan kampus dengan tidak absen dalam ruang kelas akibat sibuk memburu “proyek” ataupun mencederai etik akademis dengan plagiasi. Karena lewat otokritik atas lokus keberadaan merekalah, intelektual membangun basis yang kuat agar terhindar dari ketercerabutan kepada demos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: