Politik anti-Konfrontasi Inggris

Pramoedya Ananta Toer:
G30S tak lain metamorphosis politik anti-Konfrontasi Inggris

Pengantar pada buku Greg Poulgrain: The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia, 1945- 1965

Greg Poulgrain adalah dosen pada University of New England (UNE), Australia. The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965, adalah judul thesis Ph.D-nya pada James Cook University (1993). Pada awal 1997 ini disertasi tersebut akan diterbitkan oleh Crawford House Publishing, Australia.

Selamat datang pada Greg Poulgrain yang tanpa ragu turun memasuki sejarah modern Indonesia dengan tesisnya The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965, sebuah hasil studi yang meluas dan terperinci. Dengan karyanya orang lebih mudah dapat memahami masa peralihan dari apa yang dinamai era Orde Lama ke era Orde Baru, dua era yang bertentangan sudah pada azas dan semangatnya. Era pertama adalah era anti kolonialisme-imperialisme-kapitalisme dengan segala liku dan lekuk dengan berbagai pemain, yang mendukung dan mendongkel.

Era yang menggantikannya adalah edisi baru Opendeur- Politiek kolonial setelah bangkrutnya tanampaksa, sama- sama menghalau rakyat yang tak bernama dari tanah garapannya. Masuknya modal swasta dalam Opendeur-Politiek pada awalnya memang terutama di bidang perkebunan. Sumber- sumber air untuk minum peternakan-liar besar di Jawa Barat diracuni, sehingga peternakan-liar besar tumpas (wawancara dengan pensiunan pegawai pelabuhan Tanjung-priok, 1956). Dan, tanpa pernah ada catatan resmi atau pun tidak resmi tentangnya. Dengan demikian padang-padang penggembalaan dengan mudah dapat dikuasai modal asing. Penggusuran juga terjadi di Sumatra oleh para calok tanah yang waktu itu dinamai “residen tanah” alias pemburu konsesi (Sang Pemula, 1985, hlm. 261-262).

Bagi saya sendiri lenyapnya Konfrontasi dalam hubungan dengan sejarah modern Indonesia setelah meletusnya apa yang dinamai G30S, dan mengapa itu terjadi, telah mengusik saya sepanjang era Orde Baru ini. Kalau Konfrontasi toh disebut-sebut juga maknanya jadi berubah dan barangtentu menurut versi Orde Baru: dari Konfrontasi terhadap proyek British Malaysia menjadi Konfrontasi terhadap bangsa serumpun. Nehru, penemu dan pengembang nama Malaysia, tidak pernah menduga nama temuannya pernah menjadi sumber sengketa berdarah di Asia Tenggara. Pemelencengan makna Konfrontasi dapat diikuti dalam “Nostalgia Dua Serumpun”, Paron no. 26, 24 Agustus 1966, dan dalam “30 Tahun yang Lalu. Konfrontasi Malaysia Bisa Diselesaikan”, Kompas, 10 Agustus 1966.

Sudah sejak semula saya menduga, G30S tak lain sebuah mitos, yang sebenarnya tak lain dari metamorphosis anti- Konfrontasi pihak Inggris dan sekutunya, baik di luar mau pun di dalam Indonesia. Dan mengapa terjadi Konfrontasi? Dalam hal ini saya sependapat dengan A.M. Azahari (wawancara, 1996) bahwa Indonesia, di sini berarti Soekarno, terjebak oleh provokasi Inggris, dengan menggunakan ketegaran anti kolonialisme-imperialisme- kapitalisme Soekarno untuk menyingkirkan Soekarno sendiri.

Dan Inggris sendiri sudah berpengalaman memprovokasi Indonesia. Pertama tentu saja pertempuran Surabaya yang kemudian melahirkan Hari Pahlawan. Kedua dalam memprovokasi para pemuda di Sumatra Timur dengan berhasil melikwidasi para bangsawan wilayah tersebut. Apa yang kelak dinamai “revolusi sosial”, yang salah seorang kurbannya adalah penyair Amir Hamzah, ini sasarannya jelas: menghapus pengaruh Indonesia lewat para bangsawan Sumatra Timur dari koloni Inggris di Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara, sebagaimana disebutkan juga oleh Greg Poulgrain.

Yang ketiga adalah babak yang dibicarakan sekarang. Nampaknya Inggris sedikit-banyak telah berhasil menghalau pengaruh para bangsawan Sumatra Timur. Namun pengaruh Revolusi Indonesia dan Soekarno semakin menggelumbang di luar gedung-gedung para sultan Malaya dan Kalimantan Utara, sedang pengaruh Tan Malaka semakin menentukan di kalangan Hoakiau terutama di Brunai.

Angin kemerdekaan nasional yang anti kolonialisme- imperialisme-kapitalisme dari Indonesia membikin Inggris gelisah di kawasannya di Asia Tenggara tsb. Negara kolonial tua ini, tak rela kehilangan sumber dollarnya dari Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara. Malaya adalah penghasil besar timah, karet, sawit, Kalimantan Utara, di sini Brunai, adalah tambang minyak bumi terkemuka, sedang Singapura pelabuhan transit impor-ekspor Asia Tenggara, juga salah satu pusat pengendalian kekuasaan regional baik dengan intelijen maupun dengan pemasokan senjata dan serdadu, sebagaimana dari sini pemberontakan PRRI/Permesta yang hendak mendirikan negara sendiri itu, dibantu. Ya, bersama sekutunya yang anti- kolonial, Amerika Serikat (Lihat: Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin, Subversion as Foreign Policy. The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia .)

Usai PD II bagi Inggris tidak berarti usai pula kesulitannya. Sebaliknya, bahkan untuk membiayai kekuatan lautnya, unsur pertama “Britain rules the waves” sudah pada taraf kedodoran. Kesulitan lain adalah hutangnya pada Amerika sebagai akibat perjanjian Lend and Lease, pinjam sewa alat-alat perang Amerika. Sovyet Unie menolak melunasi hutangnya karena penggunaan alat-alat perang Amerika adalah untuk kepentingan bersama dalam mengalahkan fasisme. Inggris tidak bisa berbuat demikian terhadap sekutunya sendiri.

Dollar yang bisa diperas Inggris dari Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara yang menjadi andalannya. Agar dollar tetap dapat mengucur pengaruh Indonesia harus dihalau dari tiga koloni tsb. Untuk itu Indonesia dikilik- kilik dengan provokasi. Daftar provokasi Inggris di darat dan udara dari Januari 1963 sampai Agustus 1964 baik di Kalbar, Kalteng, Kaltim, dan antara Juni 1964 sampai September 1964 di Riau, 140 kali dan 17 kali, belum lagi provokasi-provokasi udara di wilayah Sumatra dan Kalsel, yang dalam 1964 saja sebanyak 56 kali. (Lihat: Government of the Republic of Indonesia, Why Indonesia Opposes British-made “Malaysia”, hlm. 76- 100).

Nampaknya Inggris pandai memilih waktu. Provokasi dilancarkan pada waktu Indonesia baru saja keluar dari tugas Trikora dan dengan sendirinya membutuhkan istirahat. Di samping itu bila Indonesia terkilik oleh provokasinya ia punya alasan menuduh Indonesia mempunyai ambisi teritorial seperti perebutan Irian Barat. Indonesia memang terkilik dan melayani provokasi bersenjata Inggris dengan kekuatan senjata pula.

Beberapa menko malah mendorong-dorong Bung Karno agar menggencarkan Konfrontasi dengan menyatakan mendukung dengan pengiriman senjata, dan ternyata senjata yang dikirimkan rongsokan besi tua belaka. Sedang yang dinamai dukungan hanya sebatas pernyataan. Pada pihak Inggris yang dilibatkan dalam bentrok bersenjata bukan hanya tentara Inggris, termasuk Gurkanya, juga serdadu Malaya, juga dari negara-negara sekutu militernya di Asia Tenggara.

Dalam masa Konfrontasi dan anti-Konfrontasi dengan sendirinya ada yang membenarkan bahwa Indonesia mempunyai ambisi teritorial. Mereka yang berotak dingin tidak bisa mempercayai. Soekarno, salah seorang bapak pendiri Republik Indonesia sejak pemuda hingga gugurnya adalah anti kolonialisme-imperialisme-kapitalisme, bahwa menjelang Proklamasi pun sudah ikut menggariskan, bahwa wilayah Indonesia adalah bekas Hindia Belanda. Akan lain jadinya sekiranya Bung Karno semasa kolonial jadi serdadu KNIL, alat untuk menaklukkan dan menundukkan rakyat Indonesia. Bahkan kerjasama dengan pihak kolonial pun ia tak sudi. Ia salah seorang non-koperator terkuat dalam sejarah gerakan kemerdekaan.

Penguasaan koloni sumber dollar, Malaya, Singapura, dan Kalimantan Utara, adalah jantung ihwal, the heart of the matter. Dari jantung ini didenyutkan provokasi pada Indonesia. Konfrontasi Indonesia sebagai reaksi dan anti- Konfrontasi Inggris.

Kemudian meletus G30S. Terlalu naif bila menganggap peristiwa tersebut suatu kejadian yang berdiri sendiri, sebab tak ada sesuatu apa pun yang dapat berdiri sendiri dalam kehidupan masyarakat. Begitu G30S selesai beraksi mulai kelihatan tidak matangnya perencanaan. Komandan G30S langsung pidato melalui radio tentang kenaikan pangkat bagi yang menyertai operasi, dan penurunan pangkat semua perwira yang berada di atasnya. Kelanjutannya bukan hanya lebih runyam, juga aneh: pendirian Dewan Revolusi yang mendemisionerkan kabinet. Entah siapa yang mengumumkan pendirian Dewan Revolusi tersebut. Sampai sekarang tidak jelas.

Bahwa yang diculik G30S adalah jenderal-jenderal yang setia pada Soekarno menjelaskan dilaksanakannya kehendak Gilchrist. Tetapi pendukung Soekarno bukan para jenderal yang terbunuh itu saja. Takkan semudah itu Soekarno disingkirkan tanpa menyingkirkan jutaan pendukungnya semua saja yang berpadu dalam “samenbundeling van alle revolutionaire krachten”. Mereka ini yang jadi sasaran pembantaian massa, perampasan kebebasan pribadi, harta- benda tanpa vonnis pengadilan dan hidup dalam kamp-kamp penganiayaan di seluruh Indonesia, dan terus disalahkan, didakwa sepanjang era Orde Baru, diberi stigma pula sampai anak-cucunya.

Para pelaku G30S dalam beberapa jam telah ditangkapi kemudian dihukum mati. Jelas mereka mengulangi pengalaman Kebo Ijo dalam abad ke-13 yang dihukum mati melalui putusan pengadilan, sedang dibalik itu konspirasi telah mengangkat Ken Arok jadi raja Tumapel/Singasari menggantikan raja yang dibunuhnya (lihat Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1988, jld. 2, hlm. 268). Walau demikian sejarah tidak pernah menyebutkan Arok pernah melakukan pembunuhan massal seperti pada 1965. Perampasan kebebasan pun tidak. Nampaknya penggalan kisah Ken Arok dan Kebo Ijo dari sejarah Jawa ini cukup menarik untuk dibuat perbandingan.

Jantung ihwal, yang jadi pusat studi Greg Poulgrain, menjadi terlupakan oleh kekejaman kekuasaan di satu pihak dan ketakutan massa di lain pihak. Yang tidak berpihak pada para pembunuh pada tiarap, tinggal bisa membisu dan mendengar. Monopoli informasi di satu pihak dan ikut tiarapnya para sarjana sebagai nurani pemberi terang masyarakatnya, membikin orang tak berani mempertanyakan duduk perkara G30S, apalagi jantung ihwalnya.

Sassus meniup bahwa Amerika dan CIA-nya adalah biang kerok dari semua ini. Bahwa yang belakangan ini punya keterlibatan mudah dapat dipahami. Bukankah Noah Chomsky sudah memperingatkan, bahwa sejak Columbus menemukan Amerika, sampai sekarang, bangsa-bangsa kulit berwarna dan negerinya menjadi ladang pemerasan bangsa-bangsa kulit putih. Setelah masa deklasifikasi arsif Amerika Serikat tentang G30S orang membenarkan adanya campurtangan CIA. Sementara masa deklasifikasi arsip Kerajaan Inggris disassuskan 50 tahun. Jadi orang masih harus menunggu 15- 20 tahun lagi.

Semasa PD II cadangan emas dan dollar Inggris sudah mulai kering pada waktu Lend and Lease Act ditandatangani dalam Maret 1941. Maka dalam masa perang tersebut Inggris telah berubah dari pemberi hutang terbesar menjadi penghutang terbesar, sedang sehabis perang impornya dari dunia Barat sebesar 42% sedangkan ekspornya hanya 14%. Di sinilah letak jantung ihwal pentingnya wilayah jajahannya di Asia Tenggara.

Disertasi Greg Poulgrain menggarap masa dari 1945 sampai Konfrontasi dan penulisan selesai pada 1993. Dalam bulan Juli 1996 The Observer, London, mengumumkan artikel “British role in slaughter of 500.000. Ambassador recommended ‘a little shooting’ for Indonesia in 1965, reveals Marc Curtis”. Artikel itu membeberkan arsip rahasia yang baru saja dideklasifikasi bahwa Inggris telah membantu pembantaian lebih dari setengah juta orang oleh tentara Indonesia pada 1965.

Dutabesar Inggris, Sir Andrew Gilchrist menulis pada London: “Saya tak pernah menyembunyikan kepercayaan saya dari kamu, bahwa ‘sedikit tembakan di Indonesia akan menjadi keharusan awal terjadinya perubahan yang efektif’. Dokumen-dokumen rahasia juga menjelaskan bahwa Inggris minta pada para jenderal Indonesia bergerak terhadap PKI, membusuk-busukkan PKI, misalnya kekejaman PKI dan peranan Tiongkok (RRT) dalam pengiriman senjata. Kerjasamanya dengan Amerika Serikat juga terangkum di dalamnya. Tentang yang belakangan ini sebelumnya sudah banyak terungkap berkas deklasifikasi Amerika.

Kerjasama antara Inggris dan Amerika untuk membuka Indonesia menjadi tambang dollar lebih tepatnya : semua negeri Barat yang sarat modal bukan sesuatu yang baru sebagaimana Noam Chomsky sudah peringatkan. Hanya saja yang dua ini yang paling menonjol. Menurut memorandum CIA Juni 1962 Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Presiden Amerika Serikat John Kennedy “setuju melikwidasi Presiden Soekarno, tergantung bagaimana situasi dan kesempatan yang tersedia” (Mark Curtis: “Democratic Genocide”).

Dengan demikian apa yang telah dilakukan Gilchrist hanya merupakan pelaksanaan teknis semata. Kennedy sendiri tidak pernah menyaksikan bagaimana Soekarno ditumbangkan. Ia tumbang terlebih dahulu karena ditembak 17 bulan setelah memorandum tersebut pada 11 November 1963, dengan meninggalkan 2 macam versi oleh dua musium Kennedy di Dallas, tempat ia dibunuh. Musium pertama dengan versi yang dianggap bikinan pemerintah yang dianggap menyembunyikan duduk-perkara sebenarnya, yang lain, musium yang menyuguhkan adanya konspirasi. Musium ketiga, terbesar, dibangun di Boston pada 1967 tidak menjelaskan misteri tentang kematiannya. Berpuluh tahun kemudian muncul versi lain, mungkin cocok bila dinamai “The Indonesia Connection”.

Versi lain dalam 90-an ini adalah karya Greg Poulgrain. Dari korespondensinya dengan Dean Rusk ia menemukan bahwa Kennedy dibunuh untuk mencegah pertemuannya dengan Soekarno. Topiknya adalah eksploitasi minyak bumi Irian Barat oleh Amerika. Nampaknya ini sebagai syarat pengembalian Irian Barat ke pangkuan pertiwi Indonesia. Makar ini diduga dilakukan oleh Allan Dulles, saudara John Foster Dulles, Kepala CIA yang dipecat oleh Kennedy, yang berkonspirasi dengan Ratu Minyak Bumi Belanda, yang kebetulan adalah isteri Menteri Luar Negeri Belanda, Luns.

Penemuan yang mengejutkan tersebut menarik perhatian dan penghargaan dari Prof. Dr. Wertheim. Nampaknya tidak ada sangkut-paut dengan Konfrontasi, namun tidak terpisahkan dalam proses penjadiannya. Trikora berakhir bukan tidak dengan bantuan Amerika. Irian Barat kembali pada Indonesia dan Freeport Amerika mengeksplorasi tambang tembaga, yang untuk waktu cukup lama baru ketahuan menghasilkan emas cukup melimpah. Juga tentang tambang emas besar ini Greg Poulgrain menghimpun banyak bahan. Nampaknya kita harus menunggu hasil studinya.

Saya sebagai salah seorang dari satu setengah juta kurban perampasan kebebasan oleh Orde Baru perlu mengucapkan terimakasih pada Greg Poulgrain dengan disertasinya tentang Konfrontasi. Dengan studinya itu ada sejumlah orang yang mendapatkan dasar bagi keyakinannya bahwa benar G30S adalah metamorphosis anti-Konfrontasi Inggris.

Maka juga saya menyetujui ucapan pribadi seorang protokol dalam peluncuran buku Gerilya dan Diplomasi (6 Januari 1997) agar G30S dibikin jadi tuntas agar tidak berlarut-larut tanpa ujung, membiakkan tali-temali kebohongan, apalagi setelah G30S dirajut menjadi G30S/PKI. Juga agar berakhir gejala psikologi yang aneh: mereka yang paling diuntungkan oleh adanya G30S adalah justru yang paling giat memaki-makinya, dan paling tidak satu juta orang yang telah mereka bantai itulah yang setiap saat bila mereka perlukan ditampilkan sebagai terdakwa, dan pembantaian terjadi tanpa adanya perang, pemberontakan pun tiada.

Begitu banyak orang telah dibunuh tanpa perang. Dalam sepanjang era Orde Baru tak seorang pun di antara para pembunuh massal itu pernah diseret ke pengadilan. Logikanya bila pembunuh dibenarkan untuk mendirikan kekuasaan, maka pembohongan, perampasan, penindasan menjadi soal kecil. Sebaiknya semua itu tak perlu terjadi.
Jakarta, 7 Januari 1997

Pramoedya Ananta Toer ###

2 responses to this post.

  1. Posted by proletarman on 28 April 2008 at 11:58 am

    salam kenal..
    Aku juga penggemar Pram.. Tapi tulisan di atas belum aku temukan..Blog sejarahnya sangat menarik…Minta linknya yah…

    Balas

  2. Posted by oki rahadianto S.sos on 21 Agustus 2008 at 10:49 am

    semoga artikel ini bisa membuka mata mayoritas penduduk indonesia!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: