Kebebasan dan Tafsir

Frank Kermode

Tampaknya terdapat hubungan dekat antara kemerdekaan penafsiran dan kemerdekaan politik secara umum. Spinoza, yang akan saya gunakan dalam pembicaraan ini sebagai sebuah model, menjunjung tinggi kebebasan dari pemerintahan sehingga ia memilih untuk hidup dengan mengasah penglihatan daripada menerima kursi filasafat di Heidelberg. Ia takut berkompromi dengan kebebasannya, yang merupakan kebebasan untuk menafsirkan, dengan tunduk kepada pembatasan-pembatasan politik yang mungkin. Penolakannya terhadap Hedelberg merupakan sebuah deklarasi tentang kemerdekaan penafsiran. Tak seorangpun mengerti kesulitan-kesulitan tentang hidup dan berpikir secara bebas dibawah suatu bentuk hukum yang mungkin akan bertentangan dengan penalaran yang tak terhalang.

Tidak banyak orang-orang seperti Spinoza. Ketika kita berpikir, berbicara, tentang pemusik-pemusik , penulis, dan ahli filsafat Rusia dan Czech, kita mencatat bahwa beberapa telah menolak negara dengan keberanian yang patut dicontoh, sementara yang lain telah ragu-ragu untuk memutuskan. Saya merasa cukup yakin bahwa panggilan-panggilan tak henti-hentinya dan melelahkan terhadap daya tahan, keberanian, dan ketakberpihakan kita akan membawa sebagian besar dari kita untuk menerima suatu ukuran kendali bahkan oleh pihak berwenang yang tidak kita setujui—kita lebih baik mengajar tanpa terganggu dalam kejadian-kejadian tertentu daripada tersiksa karena pemenjaraan atau pengasingan. Seorang Spinoza mungkin akan menganggapnya memungkinkan bahwa pihak berwenang negara, betapapun moderatnya, betapapun pentingnya terhadap keteraturan umum, akan menjadi kurang masuk akal daripada wewenangnya sendiri atas kehidupannya dan pemikirannya sendiri. Ini tidak berarti bahwa orang lain, yang menghasilkan untuk, atau bahkan mencoba untuk membenarkan, suatu asumsi negara tentang wewenang, bahkan tentang wewenang mutlak, adalah cukup bodoh atau mudah disuap. Perlu diingat bahwa kekuatan-kekuatan penyensoran tidak tanpa kecuali bekerja dengan larangan-larangan yang kejam, dan bahwa tekanan dapat mengadopsi sikap rasionalitas, bahkan kerja sama. Dan suatu kesulitan yang sering kita jumpai adalah keberadaan orang-orang yang cerdik dan mungkin jujur yang menemukan alasan untuk membatasi kebebasan pribadi dan penafsiran lebih berat daripada yang kita inginkan, dan orang-orang cerdas dan jujur lainnya yang melihat alasan untuk tetap berada di dalam batasan-batasan tersebut. Namun kita tidak dapat melakukannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh model kita, Spinoza.

Bagi seorang kritikus sastra untuk berbicara demikian akan tampak muluk; yaitu dengan membuat klaim-klaim secara bersamaan menjadi terlalu agung, terlalu besar untuk subjek ini. Kemerdekaan penafsiran bagi orang seperti itu adalah suatu hal yang relatif tidak penting. Untuk menuntut kebebasan hermeneutic belaka, suatu kemerdekaan yang dipraktekkan tanpa ancaman, tanpa campur tangan langsung, kadang-kadang bahkan dengan hasutan profesional kepada lisensi tak berdosa—untuk menjadi ludic, untuk menjelajah marjin-marjin yang terabaikan, untuk membalik atau mengeliminasi hirarki-hirarki, untuk menolak untuk memutuskan hal yang tidakdapat diputuskan—akan tampak sebagai suatu tantangan yang mudah. Saya ingat apa yang dikatakan Jean Starobinski tentang kekejaman Genrasene, bahwa kebebasan seperti itu dapat disebut une liberté puor rien. Tak ada petugas yang akan mempermasalahkannya; ini tidak tampak mengancam keamanan umum; apapun ambisi-ambisi yang dinyatakannya, akan cenderung tidak mengancam dan sangat sedikit kebaikan yang dapat diberikan kepada siapapun kecuali mungkin para praktisi. Maka ia akan tampak hampir tidak berharga untuk dibicarakan dalam pidato Amnesty, karena Amnesty berurusan dengan belenggu-belenggu nyata dan sel-sel dengan bentuk-bentuk tekanan yang disediakan dengan alasan oleh rezim-rezim politik dan dengan suatu suplemen besar tentang kejahatan yang secara serampangan disediakan oleh agen-agen mereka. Prasangka-prasangka akademis tentangyang secara politik benar, atau, di pihak lain, ketakleluasaan yang oleh lembaga-lembaga penafsiran yang dibebankan kepada anggota-anggotanya, akan tampak sebaliknya sebagai tekanan khayalan belaka. Tak satupun magisterium di dunia itu, memiliki Pertanyaan (Inquisition) untuk mendukungnya. Tak seorangpun dianiaya atas pembelaan terhadap suatu norma sastra tradisional,disiksa karena memenganut doktrin-doktrin Jacques Derrida, atau dibakar karena menolak untuk menarik kembali ketaatan kepada proposisi Hélène Cixous. Namun, adalah benar bahwa bahkan kontes-kontes kita yang tampaknya sepele dapat mengkalim suatu kekeluargaan dengan perjuangan-perjuangan yang lebih vital.

Selalu ada kemungkinan bahwa sesuatu yang diklaim seseorang sebagai suatu hak yang masuk akal atau suatu tugas untuk menyatakan sesuatu akan mengakibatkan kecaman, karena dapat melibatkan suatu klaim kebebasan dari pembatasan-pembatasan biasa. Dalam hal ini, kebebasan penafsiran menyerupai setiap jenis kebebasan sosial lainnya dalam hal selalu setidaknya menjadi subjek pembatasaan yang potensial. Kecenderungan ketaksetujuan dan pembatasan tersebut mungkin tidak terlalu beragam; yang beragam adalah berat tidaknya pembatasan atau retribusi yangakan mengikuti pembicaraannya, penalti bahwa pihak berwenang memiliki kekuatan atau keinginan untuk menepati. Ini akan memiliki kekuatan yang berbeda pada masa yang berbeda, seperti yang diubah oleh kondisi-kondisi sosial, politik, dan tak kalah pentingnya agama. Kita semua dapat mengutip contoh-contoh penafsiran yang terlalu berani yang dijatuhi penalti tertinggi; seperti pengamatan J. S. Mill dalam On Liberty, “Sejarah penuh dengan contoh-contoh kebenaran yang diberantas dengan penganiayaan,” dan diduga sejarah juga dipenuhi oleh contoh-contoh kesalahan yand diberantas dengan penyiksaan, dan dalam padnangan Mill kesalahan memiliki hak yang sama terhadap publikasi. Michael Servetus memiliki pandangan tentang Trinitas yang hanya beberapa ahli theologi saja kini akan menganggap berbahaya atau mengundang masalah untuk menyebutnya heretikal, namun mereka menuntun kepada suatu kompetisi antara Calvin dan Pertanyaan (Inquisition) tentang yang mana yang harus bertugas untuk membakarnya. Lebih mendekati masa kini, Tyrell ditolak untuk dikuburkan secara Katholik dan Loisy menderita ekskomunikasi, namun tak seorangpun berusaha untuk menyiksa atau membunuh mereka. Hans Küng telah disegani tetapi tidak dibakar, dan bahkan para musuhnya, sepengetahuan saya, tidak mencoba untuk membunuh Archbishop of York tersebut.

Mill melihat semakin melunaknya kontrol Yudisial tentang penafsiran ini namun memperingatkan bahwa ini jangan dianggap sebagai jaminan keamanan permanen. Dan meskipun sanksi dalam beberapa bentuk perbedaan pendapat hermeneutic telah menjadi lebih lunak, akan menjadi kesalahan serius untuk menghubungkan kelunakan ini kepada suatu kemajuan universal dalam sikap interpretatif; tentu, masa kita mungkin telah melakukan lebih banyak penyiksaan dan pembakaran daripada sebelumnya, tak dapat disangkal bukan untuk alasan apa yang oleh pendapat orang-orang yang mengetahui sekarang dianggap sebagai secara intelektual dihormati, sebagamana anggapan beberapa orang terhadap Calvin pada masa itu.

Bahkan, adalah penting untuk mengenali bahwa salah satu alasan utama mengapa kita memiliki, di Barat, dalam taraf apapun, lebih banyak kemerdekaan penafsiran adalah karena tentangan, dalam beberapa area, telah tampak tidak terlalu mengancam karena kurang menarik. Tuduhan fitnah dan kecabulan boleh jadi masih terjadi, kadang-kadang dihadapan para juri yang bingung yang merasa wajib membawakan posisi etis yang kuat terhadap apa yang dalam cara yang biasa tidak membuat mereka mengangkat alis. Namun kelakar tersebut, meskipun serius bagi si tertuduh, adalah, dalam pandangan yang tidak memihak, marjinal, atau bahkan jenaka. Perbedaan-perbedaan doktrinal kita, baik dalam hal theologis maupun etis, kurang serius dibandingkan dengan sebelumnya. Mungkin penyensoran telah menggeser posisinya. Bagaimanapun, terdapat perselisihan yang tampaknya tidak terlalu penting bagi kita, dan yang memiliki arti sangat penting karena dulu, namun tak lagi, mereka dapat dianggap terlibat dalam takdir jiwa makhluk tak abadi. Pada bagian terbesar, sensor-sensor kita tidak memperhatikan masalah yang sebanding dengan mereka. Mereka dapat,misalnya, lebih memilih melakukan kekuasaan pelarangan mereka dalam menjaga pengeluaran wanita dari kependetaan, atau menolak hak aborsi mereka. Adalah benar bahwa dalam kasus yang disebut belakanan terebut mungkin terdapat suatu elemen penonjolan dogmatis tentang jiwa makhluk tak abadi, namun tak satupun perlu diharapkan dalam respon mereka terhadap komentar-komentar tiak pada tempatnya tentang Trinitas atau pliralitas dunia-dunia, komentar yang, seperti diperlihatkan oleh contoh, telah dihunakan untuk membenarkan berbagaibentuk penyiksaan dan eksekusi.

Kita mengetahui bahwa hal pemberian izin ini tidak universal. Saya diberitahu oleh seorang Muslim bahwa keadaan menyedihkan Tuan Rushdie adalah suatu konsekuensi bukan karena ia telah bersifat bercanda secara tidak hormat terhadap Islam secara umum,karena sikap teesebut adalah, didalam batasan-batasan yang ditentukan, diizinkan dan secara tradisional dipraktekkan, melainkan karena ia telah membicarakan beberapa aturan yang cukup spesifik yang berhubungan dengan teks sakral tersebut (Al Qur’an); ia menderita karena suatu keputusan pihak berwenang bahwa ia telah melakukan kejahatan dengan membuat penafsiran yang salah (misinterpretation). Hakim-hakimnya belum menjajal salah tafsir ini secara terinci dan tak mungkin telah membaca keseluruhan teks, bersikap tidak peduli dengan pokok-pokok konteks dan nada. Sayang sekali tampaknya tak ada yang tak lazim tentang aspek fundamentalisme tersebut. Apa yang lebih mengejutkan adalah bahwa Rushdie adalah warga negara Inggris, dan meskipun perkataannya tidak menurut hukum Inggris, ini tampaknya valid dalam Islam, sebuah agama yang kini ditanam dalam kebudayaan kita. Fakta-fakta ini mengingatkan kita kepada peringatan Mill; kita jangan menganggap bahwa pelunakannya dalam beberapa area spekulasi berarti bahwa tirani hermeneutic bisa dianggap telah mati. Dan sebagian dari kita yang menyibukkan diri dengan penafsiran teks-teks harus ingat untuk menjawab, untuk tuduhan-tuduhan bahwa pencarian tersebut adalah sepele, bahwa penafsiran teks-teks sakral yang diperselisihkan, untuk hanya berbicara tentanghal tersebut, telah memiliki korban-korban yang tak terhitung. Sejarahnya mungkin merupakan argumentasi yang terkuat yang dapat diperoleh bagi ajaran teknik-teknik kritik suara. Dan, seperti yangt elah kita lihat—secara historis dan secara kritis bodoh—salah tafsir teks-teks sakral fundamentalis tumbuh, bahkan di bagian dunia yangkita kenal sebagai milik kita sendiri. Ini dapat dan memang berpokok kelebihan pada kekerasan dan kekejaman yudisial. Ini adalah alasan untuk melesatarikan kebebasan kermeneutis, dan untuk membelanya bahkan ketika konsekuensi langsung akan kekalahannya tampak kecil.

Dalam pembicaraan ini saya terutama memperhatikan apa yang oleh Mill, yang pengertiannya dapat kita dukung tanpa terlalu menyetujui bahasanya, disebut “keadaan kemajuan kedalam apa yang telah dimasuki oleh porsi spesies yang lebih beradab,” suat masa dimana pertanyaan tentang kemerdekaan menampilkan diri “dibawah kondisi-kondisi baru.” Dalam menyinggung masalah tersebut—“perjuangan antara Kemerdekaan dan Kwewnangan”—Mill mendeklarasikan bahwa “kesukaan atau ketidaksukaan suatu masyarakat, atau proporsinya yang sangat kuat, adalah… hal utama yang telah menentukan aturan-aturan yang diletakkan untuk pengamatan umum, dibawah penalti-penalti hukum atau pendapat.” Dalam hal penafsir sastra atau kritis, kita dapat menganggap bahwa kita tengah berhadapan dengan pembatasan-pembatasan terhadap kebebasan yang biasanya berpokok pada suatu “proporsi berkuasa” daripada dari masyarakat secara umum. Mereka akan memuat, dalam suatu bagian, pendapat rekan sesama anggota bentuk institusi interpretatif kita.

Namun, dalam mengatakan hal-hal semacam itu seseorang harus selalu mengingat jiwa-jiwa kuat yang tidak peduli kepada pembatasan-pembatasan tersebut. Kita memiliki mereka dalam tradisi lokal kita: Milton adalah salah satunya. Lebih rendah dalam skala sosial terdapat Ranters pertengahan abad ketujuh belas, yang menolak bahkan kewenangan Kitab Injil semenara secara selektif mendukung jaminan yang ditawarkan oleh Paul kepada Titus, bahwa bagi yang suci semua hal adalah suci. Karena mereka cukup yakin dengan kesucian mereka, teks ini memberi mereka kebebasan mutlak untuk mengotorisasi penafsiran etika mereka sendiri dan bersikap sesuka mereka, meskipun mereka mungkin telah mengharapkan tentangan resmi dan, tentu saja, mendapatkannya.

Namun, protes yang paling relevan adalah, saya telah menyarankan, milik Spinoza. Ia telah diusir dari sinagog dan dibuang dari Amstrdam ketika ia menulis Tractacus Theologico-Politicus (1670)—suatu judul yang dengan sendirinya menghubungkan kebebasan penafsiran dengan kebebasan politik. Ia mengatakan bahwa arti Kitab Injil tidak boleh ditentukan menurut kewenangan ekstrascriptural apapun—seseorang bekerja “bukan pada kebenaran jalan itu [sebagaimana ditentukan oleh beberapa kewenangan eksternal] melainkan pada arti mereka.” Arti yang kemudian ditentukan tersebut mungkin akan tidak dapat diterima oleh pejabat eklesiastis, namun itu jangan menjadi suatu alat penghindaran. Dan ia dapat menyangkal bahwa karyanya bersifat ireligius; kebenaran tentang kisah historis adalah tidak, ia berdalih, tidak dibutuhkan untuk pencapaian hasil kebaikan tertinggi kita, yang juga, karena kisah kitab injil terkenal tak dapat diandalkan; bahkan kebetulan sesekali arti kesastraan dengan referensi historis yang dapat dipertanggungjawabkan adalah irelevan bagi tujuan utamanya.

Namun tidak kurang, Spinosa tidak menyarankan kemerdekaan hermeneutic total. Ia menganggap masuk akal bahwa beberapa ukuran kemerdekaan dapat ditinggalkan jika hasil dari penolakan untuk melakukannya adalah kekacauan. Bahkan, pandangannya tidak berbeda dengan Mill: orang yang rasional akan puas dengan kebebasan cukup, menyerahkan sebanyak yang dianggap perlu untuk menghindari tekanan yang lebih parah. Dan karena suatu wewenang lunak dan masuk akal memberikan kondisi-kondisi bagi kebebasan saya, adalah masuk akal bagi saya untuk mematuhinya. Bagaimanapun, adalah sama masuk akalnya bagi saya untuk mengharapkan negara untuk bersikap masuk akal, dan suatu wewenang yang masuk akal akan mengenali bahwa upaya-upaya apapun untuk mendorong kepercayaan dengan penggunaan kekuasaan adalah tak masuk akal, karena tak seorangpun dapat dipaksa untuk percaya.

Inilah suatu pembedaan masuk akal yang tidak selalu mudah untuk dicapai dalam praktek, dan menjelaskan mengapa tanggapan-tanggapan para artis dan penulis yang diancam dengan larangan negara berbeda satu dengan yang lain. Ini mensyaratkan pembedaan yang lain, yaitu bahwa negara memiliki hak untuk melanggar kemerdekaan umum dengan objek untuk memelihara ketertiban umum, namun tak memiliki hak, kerena akan selalu tak masuk akal, untuk menentang penafsiran dogmatis terhadap teks-teks, bahkan, atau terutama, teks-teks yang dianggap sakral.

Spinoza menyebut bagian final Ethics “de potentia intellectus, seu de libertate humana,” yang, meskipun dibenaknya ia memiliki semangat sebagai musuh kemerdekaan, tetap menyatakan ketakterpisahan penafsiran deengan kemerdekaan. Tidak ada kemerdekaan sejati yang dapat ditemukan dalam sebuah negara yang merintangi praktek intelek. Kemerdekaan penafsiran kitab suci (dan demikian pula semua enafsiran tekstual) karena itu utama bagi keseluruhan gagasan kebebasan.

Spinoza adalah seorang pelopor penting dalam tradisi agung kesarjanaan keinjilan sejak masa Pencerahan Jerman hingga saat ini—suatu kesarjanaan interpretatif yang pada prinsipnya dikendalikan bukan oleh suatu keinginan untuk mematuhi asumsi utama melainkan oleh suatu keinginan untuk penjelasan-penjelasan rasional. Terapat konflik; bahwa seorang sarjana sehebat Wellhausen merasa wajib untuk mengosongkan sebuah kursi theologis agar dapat melanjutkan riset-risetnya tanpa prasangka menjadi saksi bagi suatu konflik, meskipun hanya didalam nurani terinstitusionalisasinnya, antara kewajiban politik dan kebebasan intelektual. Namun dalam tradisi dimana ia bekerja mungkin telah sama bertanggung jawabnya dengan kekuatan intelektual lainnya untuk penyusutan kekuasaan mutlak perskripsi dogmatis; ini sekarang terinstitusionalisasi secara menyeluruh, dan juga dengan sendirinya dibawah serangan neotrics yang secara khas meminta untuk kembali kepada tradisi “pra-kritis”. Kant, dalam menjawab pertanyaan “Apakah Pencerahan itu?” mengatakan ini bukan suatu kondisi melainkan suatu proses, kebangkitan dari asumsi yang tak dipertanyakan namun tak masuk akal kedalam penafsiran bebas yang tak dihambat kecuali oleh pertimbangan. “’Sapere Audi!’ ‘Milikilah keberanian untuk melaksanakan pengertian anda sendiri!’ itulah moto dari pencerahan.” Dan ia melanjutkan: “untuk pencerahan ini…yang diperlukan hanyalah kebebasan, dan kebebasan dengan bentuk yang paling tidak berbahaya…kebebasan untuk memanfaatkan pertimbangan seseorang pada segala aspek.”

Tentu saja, ini tidak akan tampak berbahaya bagi semua orang. Dan pertimbangan sendiri merupakan gagasan yang licin. Suatu tekanan institusional—“tutelage” dari mana kita hatus terbebas menurut Kant—adalah sangat efektif karena tampak masuk akal. Paket kepercayaan yang berada dibelakang Holocaust mungkin tampak masuk akal bagi sejumlah besar orang. Demikian pula dengan penyensoran. Orwell mengatakan ia tidak dapat mengerti penyensoran pada masa peperangan terhadap berita dan beberapa opini, namun sebagian besar orang merasa mereka dapat mengerti. Dalam dunia akademi yang terbatas, seperti bagi J. S. Mill, mungkin tampak lebih masuk akal untuk memanfaatkan sirkulasi opini-opini yang dianggap cukup salah, bahkan berbahaya, daripada menekan mereka. Bagi orang yang memiliki kekuasaan dan tertarik dalam melestarikan kekuasaan tersebut, prinsip ini akan tampak seperti utopia. Dalam dunia tersebut, pertimbangan mungkin menawarkan nasihat yang berbeda. Kita tidak dapat berpikir bahwa gaya penalaran kita akan menang terhadap penalaran negara, atau bahwa terdapat banyak orang-orang yang adil, atau bahwa kondisi-kondisi yang dibawahnya kita dapat mengambil posisi untuk menjadi adil belum berubah dan tidak dapat berubah; atau bahkan bahwa setiap kejadian kebangkitan dari “tutelage” merupakan kemajuan. Kita tidak dapat melarikan diri dari pertentangan lama antara kemerdekaan dan wewenang; ini akan mengambil bentuk-bentuk yang tampaknya baru, namun kita tidak akan maju melebihinya.

Bukan karena siapapun benar-benar perlu diingatkan, melainkan hanya untuk memiliki mereka di tangan belaka, izinkan saya melihat beberapa larangan umum yang tampak jelas dengan cara memasuki upaya-upaya yang yang sedikit lebih misterius dan rahasia oleh para penafsir modern; karena bagaimanapun politik juga merupakan suatu permasalahan penafsiran. Sebagian besar dari kita membayar pajak, bahkan jika kita tidak menyukainya, meskipun disini sekali lagi individu-individu yang kuat atau suka menentang tentu akan menolaknya. Edmund Wilson menolak membayar pajak yang akan membantu pembayaran Perang Dingin; ia diizinkan untuk menulis sebuah buku yang menjelaskan posisinya, meskipun ini gagal mengesankan pihak berwenang. Anggota-anggota Parlemen telah menolak untuk membayar tarikan pajak, sebagaimana hampden menolak untuk membayar uang pengiriman (ship money?). ia mengatakan bahwa membayarnya berarti mengakui hak Raja untuk menentukan jenis pajak sesuka hatinya, dan juga bahwa yang ini lebih membebani petani kecil daripada para tuan tanah yang kaya. Ia kalah tipis di pengadilan namun tidak menyerah; usaha Raja untuk menahannya di Parlemen (House of Common) gagal (kegagalan ini, tentu saja, memiliki konsekuensi konstitusional tertentu), dan Hampden kembali ke Westminster dengan dikawal oleh empat ribu pria dan sorak-sorai. Takdir objektor-objektor modern cenderung bersifat kurang menguntungkan. Juga terdapat bahaya bahwa mereka yang abstain dari membayar pajak dengan morif-motif yang kurang layak dihargai akan memberikan penjelasan yang sama. (Dan mungkin terdapat paralel disini dengan libertarian hermeneutic yang asli dan palsu.)

Pria seumur saya, meskipun mungkin beberapa lebih muda, akan mengingat operasi-operasi masa perang, pengadilan-pengadilan penolakan secara sadar sebagai memiliki pembawaan pertanyaan kemerdekaan politik dan penafsiran. Bahwa seseorang dapat menolak semua wajib militer merupakan suatu konsesi yang mendendam, meskipun diterapkan secara lebih liberal dalam perang yang kedua daripada dalam perang yang pertama—suatu kemenangan, meskipun rapuh, bagi pertimbangan. Negara memerlukan si penolak untuk memuaskan kriteria yang tidak dapat dinyatakan secara tegas namun memiliki kaitan sangat kecil dengan penalaran dan tidak mungkin dipergunakan oleh ssemua penolak. Secara luas, mereka memerlukan bahwa jika argumentasi para penolak ingin berhasil maka mereka harus memenuhi beberapa set kepercayaan yang ada dan diperbolehkan, seperti pada Society of Friends. Mereka tidak dapat berhasil jika didirikan hanya atas dasar suatu pendirian, yangl ayak dibantah namun diperoleh dari theologi atau etika tanpa lisensi, dimana baik negara ataupun individu tersebut tidak memiliki hak untuk membunuh. Beberapa kawan saya ditolak pembebasannya karena mereka diakui agnostis dan karena itu diturunkan kepada argumentasi rasional.

Disini sekali lagi terdapat orang-orang pemberani yang tidak menerima penilaian tersebut dan karenanya menderita. Terdapat banyak martir dari berbagai kepercayaan. Mereka yang memiliki nuranni namun tidak memiliki kepercayaan mungkin memiliki kesulitan lama untuk mengenali pokok dimana paksaan harus diterima, pokok dimana keseimbangan antara kemerdekaan dan hak-hak yang diperlukan oleh negara untuk mengabulkan beberapa ukurannya berbalik memihak kepatuhan individu tersebut. Dan di tengah-tengah suatu peperangan tidak ada pria untuk ditunggangi, atau untuk dielu-elukan, si penolak tegas; tentu pikiran orang banyak bahwa ketetapan negara tentang hak untuk menolak adalah, bagaimanapun, terlalu bermurah hati.

Biarkan saya menawarkan suatu contoh final, kali ini bentuk tekanan yang lebih halus. Saya melakukannya dengan sarana sebuah anekdot, yang saya harap penerapannya akan jelas. Kadang-kadang pihak berwenang dapat, sebagaimana adanya, membendung taruhan-taruhannya, dan membuat ketaksepakatan beraksi atau penafsiran menjadi sulit—susah payah, tak populer—daripada tidak mungkin. Selama berada di Angkatan Laut saya dianugerahi hukuman yang saya anggap sepenuhnya tidak adil; yaitu, saya anggap saya tidak melakukan apapun yang melanggar aturan apapun yang dapat ditafsirkan. Terjadilah bahwa dari sifat alami pekerjaan saya, saya memiliki perintah lebih lengkap tentang Peraturan-peraturan Raja daripada sebagian besar orang dan menyadari ketentuan-ketentuan yang ada untuk keluhan-keluhan dengan jenis yang saya kira saya memiliki hak untuk membuatnya. Mereka secara susah payah diekspresikan dan sangat bernada pencegahan—retorika menolak pesan ini, seolah mencoba melarang apa yang dinyatakan sebagai diizinkan. Namun, mereka juga membentuk suatu prosedur licit, dan saya mengejarnya hingga akhir, dalam stiap tahap yang disarankan untuk tidak dilakukan oleh pejabat-pejabat yang sangat superior yang tidak mengetahui bahwa prosedur ini memungkinkan atau merasa cukup yakin bahwa tak seorangpun akan memiliki keberanian untuk menggunakannya. Terperanjat dan terganggu oleh ketekunan saya, mereka sesuai peraturan mengatakan mereka harus: memperingatkan saya terhadap apa yang saya lakukan menyerahkan saya kepada tingkat yang diatasnya. Akhirnya saya, tentu saja, harus menghadapi penuduh dan pemberi hukuman kepada saya, pejabat yang berwenang, suatu momen yang sangat ganjil. Gagal terpuaskan oehnya (yang tidaklah mengherankan) saya menuntut, sebagai hak saya, pengadilan dihadapan seorang Flag Officer. Pucat karena kemarahan, ia mengabulkannya.

Kini, penafsiran saya tentang the King’s Regulation adalah, saya percaya, tanpa ragu. Hal itupun tidak dipertanyakan, kecuali oleh peringatan-peringatan berulang-ulang bahwa menentangnya adalah perbuatan yang lancang dan gila-gilaan. Dan agak diragukan bahwa siapapun dengan taruhan yang lebih besar daripada yang saya pertaruhkan—seorang perwira biasa, misalnya, atau, seseorang yang mungkin ingin terus beerja di ketentaraan setelah perang usai—bisa jadi sangatlah gegabah atau keras kepala jika melakukan apa yang telah saya lakukan. Saya tidak akan melanjutkan kisah tersebut; intinya adalah saya tidak salah menafsirkan apapun, kecuali anda ingin mengatakan bahwa saya tidak mengindahkan kekuatan-kekuatan memerangi tertentu yang memiliki siginfikansi dalam teks regulasi, dimana mugkin akan lebih bijak untuk tidak menolak saran yang diberikan, terucap ataupun tertulis, terhadap mengupayakan suatu penafsiran apapun. Dalam kasus saya, pengalaman saya adalah, meskipun sedikit mnggelisahkan, cukup sederhana. Namun ini membuat pokok bahwa mungkin terdapat kejadian-kejadian dimana kekuasan sewenang-wenang tampaknya dapat mengkualifikasi diri (self-qualified), dengan diberi ruang untuk kemasukakalan yang diizinkan, namun masik bekerja sebagai suatu penghalang yang tak kalah beratnya dengan suatu larangan ekspres.

Tentu saja, kita jangan mengharap kemerdekaan sipil biasa tugas militer; banyak orang kan akan cukup ingat tentangnya karena memiliki naluri yang lebih tajam daripada yang saya miliki tentang bagaimana keadaan kehidupan dibawah rezim-rezim yang sangat sewenang-wenang dan kejam, dimana perbedaan pendapat dapat menjadi suatu kejahatan, dimana penalti adalah sewenang-wenang, tak terduga, atau sadistis, dan dimana bahkan kemiripan suatu pengaturan yang memungkinkan persetujuan akan dicemooh. Namun saya berurusan dengan, seperti kata Mill, “tahap kemajuan dimana porsi spesies yang lebih beradap telah masuk,” yaitu, dengan masyarakat kita sendiri, yang jarang menganiaya kaum intelektual. Beberapa dari mereka, mengingat kekerasan sebagai model mutlak kekuatan negara, akan mengatakan bahwa kekuasaan ini tidak memiliki batasan rasional dan bahwa moderasi dalam prakteknya tidak membuat perbedaan kepada fakta tersebut. Dan kita hanya perlu melihat di sekeliling kita untuk melihat bagaimana ini tumbuh, betapa cepatnya moderasi hilang; misalnya, betapa menyandera, tak dapat mempertahankan diri, meskipun tampaknya harmonis dengan beberapa ukuran perlakuan manusiawi, ini sukup diperburuk oleh rantai-rantai dan kelaparan dan penderitaan-penderitaan lainnya yang tampak melebih-lebihkan kepada keperluan para penawan, yang akan frustrasi jika tawanan-tawanan mereka mati karena perlakuan yang buruk. Suplemen suka rela yang diberikan oleh para penyiksa atas ketakadilan tuan-tuan mereka adalah suatu fakta yang menyedihkan, dan sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh kekuasaan negara; saat ini hal tersebut hanya memainkan bagian yang sangat kecil dalam perselisihan penafsiran dari porsi spesies yang lebih beradab, dengan kata lain, jenis kita, namun harus dihadapi. Tidak mudah bagi ara sarjana, dengan memiliki akses bebas kepada perpustakaan-perpustakaaan besar (kecuali mungkin bagi beberapa enfer) untuk mengingat bahwa apa yang ia lakukan memiliki hubungan dengan pemasyarakatan kebohongan, distorsi, dan provokasi yang merupakan bahan-bahan catatan dalam sejarah politik saat ini di Amerika Serikat dan Inggris. Dan kadang-kadang sulit untuk membayangkan sampai batas manakah kekuasaan yang tidak bertanggung jawab akan terus berusaha.

Terdapat suatu momen yang mengerikan dalam buku Bernard William Moral Luck, dimana ia mengemukakan empat proposisi yang berhubungan dengan karakter seorang politisi yang buruk, membicarakan kondisi-kondisi yang mungkin membuat pencarian politisi seperti ini cukup sulit. Proposisi ke tiga adalah bahwa anda tidak dibenarkan secara moral untuk memerintahkan pengerjaan sesuatu yang anda sendiri tidak ingin kerjakan. Di sisi lain, dapat dikatakan bahwa negara berhak untuk melakukan hal-hal tertentu yang tidak dibenarkan dilakukan oleh warga negara pribadi, hal-hal yang hanya akan ditentang oleh seorang anarkis. Namun Williams menambahkan kepada pengamatan yang agak sini sini: “Pertimbangan bahwa mereka tidak dapat memerintahkan sesuatu kecuali mereka dipersiapkan untuk melakukannya sendiri harus diimbagi dengan pertimbangan bahwa jika mereka dipersiapkan untuk mengerjakannya sendiri mereka akan menjadi sangat ingin memerintahkannya.”1 ini adalah suatu pengamatan yang sesuai bagi sebuah dunia yang harus selalu kita miliki disuatu tempat dalam benak kita, sebuah dunia dimana kekuasaan akan meletakkan diri melawan kebebasan bukan hanya karena suatu kebutuhan untuk melestarikan diri belaka, melainkan, melebihi itu, untuk menambahi tindakan bagi kesenangan kelebihan murni. Namun karena telah mengingatkan diri saya tentang apa yang harus dihadapi, saya akhirnya berpaling kepada porsi dunia yang lebih beradab yang diwakili oleh kita.

Saya kini tiba pada pertanyaan-pertanyaan ini: pertama, derajat kebebasan apakah yang kini dinikmati oleh sastra, para penulisnya demikian pula para pembacanya (karena semuanya adalah penafsir); dan, kedua, dalam sikap bagaimanakah ketakbebasan masyarakat beradap apapun terefleksi dalam peran kritisisme dan penafsiran. Permintaan tersebut dapat memperoleh martabat dari penjumlahan yang ditawarkan dalam judul yang diberikan pada bagian terakhir karya Spinoza Ethics. Kebebasan karena bersifat tak terbagi, bahkan permasalahan parkhial tentang kebebasan dianggap layak diperhatikan.

Sartre berbicara membicarakan tentang kebebasan pembacanya sebagai kebebasan untuk menciptakan, kebebasan yang “tidak dialami oleh fungsi subjektif bebasnya yang menyenangkan, namun dalam suatu tindakan kreatif yang diperlukan oleh suatu imperatif.” Ini adalah benar; seorang pembaca yang tidak kreatif tidaklah bebas, karena kebebasan berasal dari kegiatan penafsiran. Seorang Duke dalam Measure for Measure berkomentar bahwa

Surga melakukan pada kita seperti apa yang kita lakukan dengan obor,

Bukan menyalakan mereka untuk diri mereka sendiri; karena jika kebajikan kita tidak berlanjut, sama saja dengan kita tidak memiliki obor-obor tersebut…

Ini benar tentang bacaan; dan kebebasan untuk membaca secara kreatif memiliki resikonya, seperti yang dimiliki oleh kekuatan yang diberikan kepada Angelo: adalah mungkin untuk membayangkannya digunakan secara tidak bermoral. Sartre, tentu ingin memperlakukan pembaca “Sebagai suatu kebebasan murni” dan sebagai balasannya diperlakukan sebagai seorang penulis. Namun ia mengenali bahwa pertemuan kebebasan ini adalah suatu ideal, bukan suatu situasi aktual; karena “literatur dari suatu masa adalah terasing ketika belum mencapai kesadaran eksplisit otonominya dan ketika tunduk kepada kekuatan-kekuatan temporal atau kepada suatu ideologi.”2

Sartre, dengan caranya sendiri, mengulang atau mengembangkan apa yang dikatakan oleh Spinoza, namun menambahkan ancaman baru. Ia menyiratkan bahwa kesusastraan perlu memiliki otonomi namun gagal mencapainya ketika mengindahkan kekuatan temporal atau menjadi suatu korban ideologi. Ia memberi tanda bahwa kesusastraan adalah demikian, mungkin bahwa kesusastraan telah selalu melakukannya—bahwa otonomi sadar ini melebihi kemungkinan pencapaian apapun, bahwa bukan hanya negara melainkan apa yang kemudian disebut aparatus ideologis negara akan selalu mencegahnya. Ini sesungguhnya memperbesar kekuatan-kekuatan represi, karena dengan cara tertentu penulis akan secara tak sadar memihak mereka melawan dirinya sendiri. Maka sang musuh bukan hanya apa yang dapat diidentifikasi dengan pedih—penyensoran oleh penguasa, pembungkaman para penulis, tuduhan kecabulan, menciptakan cara pikir yang sulit dihindari, yang sejalan dengan sang musuh. Beberapa orang akan mengatakan bahwa dalam keadaan-keadaan ini karya apapun merupakan semacam transaksi antara apa yang tampaknya dituliskan dengan isi ideologisnya yang tersembunyi. Dan beberapa akan menyatakan bahwa hanya dengan berbicara demikian tentang seorang penulis, tentu saja seorang penulis yang memiliki hak-hak, atau bahkan hanya dengan berbicara tentang kesusastraan sebagai kategori istimewa, Sartre sendiri tanpa sadar mengalah kepada tekanan-tekanan ideologi yang tak disadarinya.

Merupakan suatu pikiran yang tak menggembirakan bahwa banyak yang telah disisksa, dibuang, dan dibunuh karena negara, tidak kurang dari mereka sendiri, berada dibawah ilusi bahwa para penulis itu ada, dan bahwa mereka bertanggung jawab atas apa yang telah mereka tulis. Saya pikir kita dapat sedikit berasa lega dengan pertimbangan bahwa dalam masyarakat-masyarakat dimana kesalahan-kesalahan semacam ini memungkinkan, opini-opini para penulis telah memiliki arti penting yang dipertinggi demikian pula dengan resiko yang lebih tinggi. Di dunia kita sendiri, tekanan, jika istilah tersebut diperbolehkan, mengambil bentuk yang berbeda. Pada hari ketika saya menulis ini saya mendengar Christopher Hill, Master of Balliol, mengatakan dalam siaran BBC bahwa satu pelajaran yang harusnya kita pelajari dari perang saudara, tetapi tidak mempelajarinya, adalah perlunya penghapusan House of The Lords (bagian dari parlemen Inggris) dan monarkhi. Tak seorangpun akan terkejut mendengarnya menyatakan pandangan ini, karena ia mungkin akan telah melakukannya dalam hampir setiap tahap dalam karirnya. Juga tak seorangpun perlu cemas bahwa piolisi akan memanggilnya pada pukul lima pada hari berikutnya. Tentu saja, tidak selamanya demikian; sejarawan Heyward diperiksa oleh Privy Council atas dugaan bahwa bukunya tentang Richard II merupakan sebuah kritik tersembunyi tentang Elizabeth memiliki kegemaran terhadap favorit-favorit, dan Shakespeare mungkin telah lolos dari siksaan yang sama ketika perusahannya mengizinkan para pengikut Essex untuk menghidupkan kembali karyanya, Richard II pada malam pemberontakan Essex. Spenser dengan senang hati merayakan penyiksaan pihak lawan dari pihak kerajaan—ia memperlihatkan, dengan segala penampakan kepuasan, suatu umpatan kepada Ratu dengan lidahnya tertempel pada sebuah pos; William Prynne kehilangan kedua telinganya dan membayar denda yang ebsar karena menghina Charles I dan ratunya. Kita mungkin juga akan terkesan dengan kegarangan kuno dan redundansi dari penalti-penalti tersebut, dan tak lagi mengharapkan apapun seperti itu. Karena ekspresi suatu ketaksukaan terhadap monarkhi dan kawan-kawannya tak lagi menyentuh kekuatan kedalam yang sesungguhnya. Membiarkan mereka berlalu akan merefleksikan suatu asumsi bahwa kebebasan opini tertentu dapat secara sosial menstabilisasi dan membiarkan struktur-struktur kekuasaan utuh, mungkin lebih aman daripada sebelumnya, sementara tekanan-tekanan ideologis yang lebih subtil terus bekerja.

Apakah respon institusional masa kini terhadap penafsiran-penafsiran revolusioner atau kemerdekaan memiliki kesubtilan yang sama, diragukan. Ia dipelihara oleh banyak pihak, dan dalam formulasi yang beragam, sehingga gagasan-gagasan seperti teks-teks sebagai hasil karya, suatu karya yang memiliki struktur dan penutup yang dapat diidentifikasi, dan berhubungan dengan genre ini atau itu, dihasilkan oleh seorang penulis dengan cukup kendali terhadapnya, mengambil tempat dalam kelas besar karya-karya yang biasanya dikenal sebagai kesusastraan, dan memiliki nilai yang mungkin lebih besar daripada karangan berikutnya yang sesekali dipilih oleh seseorang, adalah kuno atau venal, konsekuensi dari keterlibatan dengan, atau kapitulasi cuci otak pada, kekuatan-kekuatan yangmenekan. Lebih jauh dikatakan bahwa penolakan seboyan-semboyan ini adalah karya dari pertimbangan, dari pencerahan; dan dikatakan pula bahwa disipin-disiplin kritis untuk dipekerjakan adalah sangat jauh dari libertrarian sehingga mereka menggunakan suatu derajat kekerasan yang sebelumnya beum dikenal oleh kritisisme tulisan. Dan benar tentang contoh-contoh terbaik bahwa mereka dapat memiliki kekerasan yang hebat dan jelas. Baik mereka terbaik karena kebaruan mereka, atau karena mereka luar biasa dalam suatu sikap berkelanjutan dengan penafsiran institusional yangt erbaik, adalah suatu pertanyaan yang tidak perlu kita jawab sekarang. Klaim kemerdekaan atas pemerintahan yang menekanlah yang kita perhatikan saat ini. Dan klaim ini menyatakan, dalam istilah Spinoza, bahwa kita sebelumnya membaca dan penafsirkan dengan suatu sikap hormat yang seperti budak terhadap norma-norma yang ditentukan sebelumnya dan dikontrol secara ideologis: bahwa kita membaca untuk kebenaran yang ditetapkan sebelumnya dan bukan untuk arti, membuat kesalahan yang sama yang dijatuhkan oleh Spinoza tiga ratus tahun yang lalu.

Bagaimana institusi dengan wewenang mencoba untuk membatasi kemerdekaan para penafsir, mencela tafsiran-tafsiran yang tampak menyimpang, sementara bagi mereka yang dicela akan tampak kesalahan yang dituduhkan kepada mereka hanyalah suatu pengertian akut tentang ideologi yang membutakan para pencela? Berbicara tentang topik yang mirip dengan topik ini beberapa tahun yang lalu, saya bercermin pada kekerasan pencapaian ilmiah dan mengutip beberapa contoh yang diberikan oleh Michael Polany tentang operasi apa yang disebutnya kompetensi institusional, suatu kualitas yang sesuai bagi institusi tersebut namun diinternalisasi oleh anggota-anggotanya. Ia bercerita tentang tulisan yang diterbitkan dalam Nature yang isi pokoknya mendemostrasikan bahwa “masa kehamilan rata-rata dari binatang yang berbeda dari kelinci hingga sapi adalah suatu kelipatan bilangan bulat dari angka π.” “buktinya…menghasilkan,” kata Polanyi, “adalah luas, persetujuannya baik.” Namun semua orang langsung mengerti bahwa kontribusi tersebut adalah sebuah lelucon. Gagasan tersebut secara intuitif tak terduga. Itu bukanlah ilmu pengetahuan. Klaim-klaim dengan kehebatan yang bahkan lebih besar juga ditolak tanpa pemeriksaan sebagai karya yang, meskipun tampaknya masuk akal, menjadi tidak konsisten dengan apa yang dipikirkan sebagai ilmu pengetahuan. Intuisi institusional tidak sepenuhnya sempurna, namun apapun yang mencuranginya cenderung memiliki arti revolusioner.

Terdapat paralel yang kurang tepat di dunia penafsiran kesusastraan; saya memberi beberapa dari arsip-arsip yang kaya, fantastis, terlupakan dari kristik Shakespearian, yang layak dipertimbangkan karena begitu banyak amatir yang merasa bebas untuk masuk dan memberik apa yang, menurut mata profesional, kebohohan-kebodohan yang sangat jelas yang tidak memerlukan pengamatan dengan saksama. Dalam semua masyarakat yang diketahui terdapat kekuatan untuk kecaman yang dalam tradisi psikoanalitis disebut “analisis liar”. Dan tanpa terhindarkan, juga harus terdapat suatu praktek sewenang-wenang dalam kekuatan institusional. Ini bukanlah suatu permasalahan untuk debat abstrak belaka. Untuk menghargai suatu derajat kelas dua dan bukan yang pertama, untuk menggagalkan suatu disertasi Ph.D—ini merupakan tindakan-tindakan yudisial dengan sikap nyata terhadap pasa depan para aspiran.

Dan masih saja harus disetujui bahwa standar-standar yang digunakan untuk membuat keputusan-keputusan tersebut tidak, bahkan dalam ilmu pengetahuan, kekal. Mereka berubah seiring waktu, dan dalam kemanusiaan mereka berubah sangat cepat dan agak radikal. Siapapun yang sesekali mengamati suatu bacaan Ph.D akan setuju bahwa selama sekitar dua puluh tahun terakhir telah terjadi suatu perubahan luar biasa dalam bentuk karya yang diajukan, dimana apa yang diajukan tersebut mungkin akan ditolak dan dianggap sampa pada tahun 1970, dan bahwa terdapat banyak area studi yang kini dipergunakan oleh para kandidat sebagai bahan disertasi yang mungkin juga ketika itu telah dapat memuaskan para penguji.

Perubahan-perubahan ini bukanlah suatu konsekuensi pergeseran tunggal tekanan melainkan suatu pertanyaan umum norma-norma penafsiran, yang telah memiliki efek—mungkin saya harus mengatakan seharusnya telah memiliki efek—untuk menyebabkan para senior untuk menuji ulang sifat alam dan struktur-struktur kewenangan mereka. Pengajuan pertanyaan ini telah memiliki berbagai bentuk, semuanya secara akrab digolongkan dibawah kata-kata possutrukturalisme, atau dengan sederhana teori, dan dan merupakan pendekatan-pendekatan hermeneutic yang baru meskipun beberapa golongan akan menolak untuk diwajibkan sedemikian. Diantara mereka seseorang dapat menetapkan teori feminis, dekonstruksi, dan berbagai bentuk neo-Marxisme. Dan terdapat yang lain, yang berhubungan dengan kelompok-kelompok etnis. Terlalu terlambat dalam pidato ini untuk banyak berbicara tentang revolusi-revolusi ini, kecuali bahwa mereka dapat, dalam suatu bentuk koalisi, menjadi sumber utama wewenang dalam beberapa tahun, dan dengan demikian memiliki kekuatan-kekuatan larangan yang mereka sematkan pada penjaga lama atau gang yang kini ditujukan kepada pertanana dengan suatu pembombardiran argumen-argumen yang menurut mereka ekspresinya sangatlah tidak jelas.

Apa yangakan menjadi respon yang tepat bagi penjaga lama? Ini belum, dalam menyatakan kasusnya, selalu menghindari kebodohan atau kehilangan penguasaan diri. Dan kini wewenang institusionalnya tampak menjadi tidak kokoh, seperti yang dapat kita nilai dari pemilihan umum yang baru saja teerjadi pada kepresidenan Modern Language Association of America. Tidak saja wewenang mereka melainkan juga wewenang peraturan agama, sebuah kategori yang dicemooh dan disingkirkan oleh banyak orang, harus dikatakan, siapa yang sering hanya memiliki gagasan kecil tentang isi dan fungsinya, berada dalam ancaman.

Ujian-ujian penafsiran ini dapat dengans sangat mudah ditampilkan sebagai kejadian atara kemerdekaan yang mendapat pencerahan dengan wewenang yang menjadi dibuat tidak dikenali/diketahui (benighted). Gang lama memiliki gagasan nilai yang tidak sempurna dan memenuhi kepentingan sendiri. Mereka dikejutkan oleh tantangan, dipaksa untuk memasuki argumen yang tak diinginkan agar menjawab tuntutan bahwa nilai yang mereka sematkan pada karya-karya tertentu hanya merupakan refleksi dari status sosial dan institusional mereka sendiri; bahwa peraturan-peraturan keagamaan adalah konstruksi pria-pria kulit putih yang telah mati, suatu kategori yang dapat menyertakan mereka yang secara teknis hidup yang mencoba untuk melindunginya.

Sayang sekali, mereka yang memiliki pandangan ini cukup tak terkesan dengan pernyataan tegas tersebut, bagaimanapun bersemangatnya, bahwa “kita”—para pelindung suatu peraturan keagamaan yang mereka namun bukan kita anggap sebagai suatu lampiran pada monumen-monumen kulturan yang tak berdaya—tahu, sepasti kita mengetahui apapun, bahwa puisi-puisi tertentu, lukisan-lukisan tertentu, musik-musik tertentu, dapat secara rahasia dianggap sebagai lebih berharga daripada lain-lainnya. Karena “kita” mengetahui karya-karya ini dengan suatu keakraban dari prasangka-prasangka mereka yang mencegah mereka dari mendapatkan dan dialami dalam kegiatan tanpa akhir untuk mengeksplorasi mereka, suatu kegiatan dimana lawan-lawan kita belum pernah ikut serta, tak melihat alasan mengapa mereka harus bergabung, tentnu akan menganggap sebagai pengkhianatan terhadap alasan mereka untuk bergabung. Maka kesulitan untuk masuk kedalam apapun yang sama dengan suatu diskusi yang sebenarnya: satu pasang penafsir menganggap absurd untuk dipanggil untuk menjelaskan bahwa Le Nozze di Figaro layak untuk suatu bentuk perhatian yang dapat secara aman tidak dimasukkan dalam rap atau rock, sementara yang satunya mencemooh gagasan utama untuk mendengarkan secara penuh perhatian suatu opera oleh seorang pria kulit putih yang telah mati yang banyak dikagumi oleh para pria kulit putih yang telah mati.

Saya mungkin telah menekankan terlalu keras kegarangan dan juga kekosongan pertemuan ini, namun terjadi suatu pertemuan, dan ia memperlihatkan, dalam pengertian dari subjek kita saat ini, suatu argumen, sepenuhnya politis, tentang derajat-derajat kebebasan penafsiran. Izin atau kemerdekaan? Itu akan selalu menjadi pertanyaan untuk dijawab oleh siapaun yang berada diatas; jika para pemberontak masa kini menjadi pemerintah di masa yang akan datang, tanpa diragukan ini akan dijawab dengan kekuatan. Kesulitan diskusi dengan keterusterangan dipersulit dengan keberhasilan suatu opini posmodernis yang berhubungan dengan relativisme kebenaran: kebenaran suatu tulisan adalah apa yang dicapai oleh tulisan tersebut dengan menagcu pada diri sendiri; ini merupakan produk suasion, suatu epifenomena dari aksi retoris. Apa yang dulu disebut berbohong kini merupakan satu-satunya cara untuk berargumentasi. Apapun adalah benar jika saya dapat mengatakannya secara persuasif.

Karena ini sedikit mencemaskan, adalah melegakan bahwa dekonstruksi, dalam berbagai cara merupakan elemen paling penting dalam teori kritis posstrukturalis, dapat diperlihatkan untuk menentang sikap-sikap tersebut. Christopher Norris, seorang ekspositor yang sangat cakap, menolak mereka sebagai contoh-contoh dari apa yang ia sebut “pan-textualist pseudo-theory.”3 Ia tidak menginginkan wewenang dan konvensi melainkan kebenaran dan alasan, seperti yang ditemukannya dipaparkan oleh Spinoza dan Kant, untuk mengendalikan izin posmodernis. Ia tidak kurang setia terhadap pandangan bahwa suatu penghargaan terhadap kebenaran dan alasan harus didamaikan dengan tugas untuk menguji teks-teks untuk bukti, dalam sikap alam kasus tersebut seperti yang dimengertinya harus berada disana, bahwa mereka harus menumbangkan tujuan para penulisnya.

Seseorang melihat betapa sulitnya mencapai pengertian jelas tentang krisis hermeneutic kita, atau untuk menentukan derajat yang tepat dari kebebasan penafsiran. Namun setidaknya dapat dikatakan bahwa para inovator sama sekali tidak menolak untuk membedakan kemerdekaan dari izin. Dekonstruksi, kadang-kadang, bagi gangguan semacam Noris, secara membingungkan dihubungkan dengan penolakan tersebut, telah menjadi secara layak dideskripsikan oleh Barbara Johnson sebagai “ejekan secara berhati-hati dari kekuatan-kekuatan penting yang memerangi didalam teks itu sendiri.”4 ini memang tidak dimaksudkan sebagai sebuah definisi lengkap; ini dapat diterapkan terhadap sebagian dari Kritik Baru yang lama yang kini dianggap usang. Intinya adalah bahwa Profesor johnson menekankan suatu kebutuhan untuk pembatasan. Doktrin tidak menegaskan bahwa bahasa akan menjatuhkan arti pemakainya. Tidaklah benar membuat parafrase seperti ini:”Jika bahasa tidak lagi dijamin dapat diandalkan atau benar [Siapa, seseorang bertanya-tanya, yang percaya dengan jaminan seperti itu?] maka mungkin ‘selalu’ tidak dapat diandalkan, salah, atau bias. Jika tidak perlu, maka kuno; jika tidak berarti, maka tidak menentukan; jika tidak benar, maka salah.”5 Itu, ia berkata, adalah suatu parodi dari pandangan Paul de Man tentang bahasa, suatu pandangan yang diterima oleh Profesor Johnson. Apa yang dimaksud oleh de Man (dan karena Profesor Johnson mampu dengan penuh percaya diri memaparkannya, ia mungkin berpikir bahwa bahasa tidak dapat mencegah de Man dari mengatakan apa yang dimaksudnya) adalah bahwa bukanlah “kepastian a priori bahwa bahasa berfungsi menurut prinsip-prinsip yang, atau seperti, berasal dari dunia fenomenal.”6 dan pencirian ini, yang mungkin tampak cukup nyata, tampaknya tidak selalu demikian; contohnya, “Apa yang kita sebut ideologi tepatnya adalah kebingungan ilmu bahasa dengan kenyataan alami.”7 beberapa kritikus terlalu cenderung pada penggunaan tidak tepat dari kata tepatnya, namun sekali lagi seseorang melihat apa yang dimaksudkan. Dan seseorang juga melihat bahwa inilah suatu disiplin yang tidak ingin membiarkan bahwa sang pemilik juga tidak dapat diandalkan, bias, dan seterusnya. Namun intinya adalah bahwa mereka ada disini, meskipun bukan berarti dalam setiap departemen teori, terbatas pada kemerdekaan: mereka ditetapkan oleh kebenaran dan alasan.

Dengan semangat yang sama, Christopher Norris membenci apa yang ia lihat sebagai upaya ambil alih Derrida oleh neofragmatis Amerika, bekerja dalam tradisi William James (kebenaran adalah apa yang “baik menurut kepercayaan”). Ia mengakui bahwa Derrida menuntut alasan-alasan untuk kemasukakalan; apa yang dilakukannya adalah “memikirkan batas-batas dari prinsip alasan tersebut yang telah membentuk munculnya filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi Barat.”8 Semakin banyak alasan mengapa kemasukakalannya harus menjadi lebih masuk akal, kebenarannya lebih benar, daripada orang-orang yang belum memikirkan batasan-batasan itu. Maka Derrida, meskipun membaca untuk apa arti seorang penulis demikian pula dengan untuk apa ia berkata (suatu prinsip yang sempurna), menyatakan dengan cukup kuat bahwa penafsiran “beroperasi a fortiori didalam hipotesis sehingga saya sepenuhnya mengerti apa yang ingin dikatakan oleh penulis, dengan syarat ia mengatakan apa yang ia maksudkan.”9

Disini, kemudian, pada asal dekonstruksi, kita memiliki pembatas. Tidak semua epigoni telah mengamatinya, dan Norris selalu keras terhadap apa yang ia sebut “sungguh-sungguh izin hermeneutic.”10 Pembacaan dekonstruktif harus dilakukan dengan pertimbangan yang sesuai untuk logika, kebenaran, dan alasan, meskipun ini juga berdasarkan analisis keras, batasan-batasan mereka dipikirkan. Dalam departemen-departemen lain—karena, seperti kata Jonathan Culler, teori adalah “bersisi banyak”—terdapat lebih sedikit pembatasan terhadap “sungguh-sungguh izin hermeneutic” dan permintaan yang lebih melengking untuk kebebasan dari gagasan batasan, ini dicemari oleh sumber rasial atau seksual mereka, atau hanya oleh konsepsi-konsepsi sejarah kuno, akhir, genre, kepenulisan dan wewenang.

Pada akhir pembicaraan ini saya tidak memiliki ruang untuk menulis lebih lengkap bentuk-bentuk penafsiran tak bermoral. Saya juga tidak ingin menutupi minat saya sendiri dalam kemerdekaan-kemerdekaan yang bahkan dua generasi yang lalu mungkin akan tampak tak bermoral atau bagaimanapun juga mencurigakan. The Interpretation of Dreams merupakan sebuah buku revolusioner; ia tidak mempengaruhi gagasan-gagasan umum tentang penafsiran sekaligus, namun seiring ajlannya abad ini pengaruhnya telah menentukan. Demikian pula dengan Saussure. Gagasan-gagasan lama tentang penafsiran tulisan telah dijalurkan jauh sebelum kebangkitan strukturalisme dan pos-strukturalisme. Telah ada banyak kemerdekaan dibawah wewenang. Sejarah penafsiran modern sering dikelirukan untuk tujuan-tujuan propaganda atau karena ketidakpedulian. Namun jika kisah ini diceritakan secara jujur, akan perlu pula dijelaskan bahwa bukan saja terjadi perubahan-perubahan besar, gaya-gaya kebebasan yang baru, sebelum gangguan-gangguan pada tahun 60-an, tetapi bahwa telah terjadi perubahan-perubahan besar sejak itu, dan bahwa mereka hanya sebagian saja ditentang pada bidang-bidang dimana mereka memperkenalkan ketakmasukakalan atau kesalahan. Mereka juga ditrentang karena usia para penentang, karena mereka telah menikmati kemerdekaan-kemerdekaan yang lebih tua, didukung, kadang-kadang dengan enggan, oleh pihak berwenang; karena mereka dianggap menolak beberapa implikasi yang diklaim oleh yang lebih baru, dan terhadap semangat yang sombong atau ribut, untuk tak mengatakan apapun tentang dialek-dialek esoteris yang dipergunakan dalam mengemukakan mereka; karena melelahkan untuk terlibat dalam apa yang tampaknya perlu namun merupakan pertikaian-pertikaian yang tidak produktif, dengan orang-orang yang memiliki kelebihan dalam kepercayaan diri dalam program-program baru dan menarik, hampir dapat dikatakan, dari keuntungan-keuntungan konversi menuju suatu kepercayaan baru.

Apa yang hampir tidak diragukan adalah bahwa seperti semua gaya hermeneutic, ini akan, jika mereka menerima wewenang, ditentang dan kemudian ditumbangkan, persaingan lama antara pihak berwenang dengan kebebasan yang dihasilkan diatas landasan yang baru. Dalam kaitan ini, kebebasan hermeneutic adalah bagian dari semua kebebasan. Ini selalu dimenangkan dengan konflik; lingkupnya akan berubah, seperti juga sifat dasar kebebasan individual berubah, sebagai gagasan pokok dari apa artinya menjadi bebas berubah dengan perubahan kebudayaan yang lebih besar; ini dapat menjadi lebih atau kurang kejam dan dapat menjadi lebih atau kurang ditentang keras atau ditekan.

Pandangan saya sendiri adalah bahwa dengan kekuatan negara, kita hanya berhutang arti si penulis dalam derajat rasa hormat karena alasan penerimaan kita terhadap kebebasan rasional yang diberikan oleh teks tersebut. Derrida telah menyebut pengeertian literal sebagai rel penjaga; rel ini mencegah kita dari mengatakan beberapa hal dan juga membuat kita dapat mengatakan apa yang tidak masuk akal. Dan penting untuk tidak berbicara hal yang tak masuk akal tentang teks-teks, baik dengan mengubah mereka agar sesuai dengan asumsi terdahulu atau dengan mengaggap bahwa memiliki, dengan suatu proses pencerahan tiba-tiba, berhasil membuang asumsi-asumsi tersebut, seseorang telah memenangkan hak untuk mengatakan apapun yang muncul di kepalanya.

Itulah mengapa Spinoza menolak untuk membolehkan wewenang palsu untuk mengubah exegenesis, sementara dalam saat bersamaan bersikeras bahwa exegenesis harus ditentukan oleh alasan. Apapun yang ia maksudkan dengan alasan ia sudah pasti memikirkan tentangnya sebagai memiliki wewenang, suatu wewenang yang lebih tinggi daripada dogma eklesiastis. Kemerdekaan exegenetis, seperti kemerdekaan sosial, tergantung kepada rasa hormat terhadap sumbernya. Dalam kasus Spinoza, sumber tersebut adalah alasan manusia, alasannya sendiri. Seperti yang telah saya katakan, terdapat contoh-contoh dimana perlu untuk melekatkan alasan pada suatu wewenang eksternal. Baik seseorang menganggap wewenang tersebut masuk akal atau tidak merupakan permasalahan bagi nurani individual. Jiwa-jiwa yang kuat mungkin akanmemutuskan bahwa suatu hukum tertentu harus tidak dipatuhi, karena tidak mengambil bagian dalam kemasukakalan dimana seseorang memiliki hak untuk mengharapkan dalam suatu wewenang yang menuntut sejumlah pengorbanan kebebasan dari pihak mereka. Yang lain, demikian pula, akan memiliki permasalahan yang sama, namun menyelesaikannya dengan kurang keras; mereka akan berpikir tentang keseimbangan antara tentangan, jika tuntutan cenderung kepada sangat tidak masuk akal, dan kerelaan jika tampaknya hanya meminta apa yang dengan sendirinya masuk akal, misalnya, suatu pengorbanan kebebasan individual yang perlu sebagai suatu pengakuan terhadap kebebasan umum yang telah dinikmati. Keputusan-keputusan dan penilaian tersebut dapat merupakan masalah hidup dan mati. Mereka hampir bukan bagian dari porsi istimewa kita di dunia, dimana pokok-pokok masalah biasanya hermeneutic belaka. Dan tetap saja kebebasan penafsiran telah, kadang-kadang masih, dan mungkin akan demikian lagi, suatu masalah hidup dan mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: