Sri Sultan Otak Serangan Umum 1 Maret

Sabtu, 01 Mar 2008,
Sri Sultan Otak Serangan Umum 1 Maret

JAKARTA – Sejarah selalu menjadi bagian penting untuk legitimasi
kekuasaan. Pada era Orde Baru, Soeharto disebut-sebut sebagai otak
Serangan Umum (SU) 1 Maret 1949, peristiwa heroik menyerang Belanda di
Jogjakarta. Seiring hilangnya Orba, sejarah itu pun mulai goyah.

Beberapa sejarawan yakin, serangan enam jam yang dilakukan sekitar
1.500 prajurit itu merupakan ide Sri Sultan Hamengkubowono IX (HB IX).
Bukan semata-mata gagasan Soeharto yang waktu itu berpangkat letnan
kolonel.

“Ada sangat banyak data yang mendukung bahwa itu merupakan ide,
inisiatif, dan gagasan Sri Sultan HB IX,” ujar sejarawan Asvi Warman
Adam di Jakarta kemarin (29/2).

Menurut dia, setidaknya ada beberapa hal yang memperkuat fakta
tersebut. Pertama, kedudukan dan fungsi yang dijabat Sultan waktu itu
memungkinkan menjadi konseptor. “Saat itu, Sultan berperan sebagai
raja Jawa, menteri pertahanan, dan gubernur ibu kota Indonesia,” unkap
Asvi yang juga peneiliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
tersebut.

Awal Februari 1949, HB IX mendengar siaran radio (luar negeri) bahwa
PBB akan membicarakan masalah Indonesia yang ketika itu diklaim
Belanda sudah tidak memiliki pemerintahan dan kekuasaan. Saat itulah
terlintas inisiatif di benak Sultan untuk mengadakan serangan umum
mulai pagi sampai siang, sehingga bisa memberi tanda bahwa sebenarnya
pemerintah Indonesia belum menyerah.

Karena Sultan tak punya pasukan, dia mengirimkan surat kepada Panglima
Besar Jenderal Sudirman untuk meminta izin mengadakan serangan
tersebut. Sudirman pun menyarankan agar Sultan menghubungi Letkol
Soeharto di Jogjakarta Selatan. Pada 14 Februari, Sultan mengirimkan
surat kepada Letkol Soeharto melalui GBPH Prabuningrat, yang
selanjutnya diserahkan kepada Marsoedi untuk disampaikan kepada Soeharto.

Surat itu berisi permintaan Sultan kepada Soeharto untuk merancang
serangan saat siang. “Sudirman meminta Soeharto menghadap Sultan, dan
itu dilakukan sebelum 1 Maret,” kata Asvi.

Ahli peneliti utama LIPI itu menuturkan bahwa ada satu bukti otentik,
yakni foto. “Soeharto sebagai abdi dalem saat bertemu raja memakai
pakaian adat Jawa. Itu ada fotonya. Tapi, tidak dipasang di Monumen
Jogja Kembali karena nanti ketahuan kalau Soeharto sengaja menghadap
dulu,” tegasnya.

Sejarawan dan pengajar jurusan ilmu sejarah UGM Adaby Darban juga
mendukung pendapat Asvi. “Sejarah harus diluruskan dengan memberi
kesempatan bagi saksi-saksi yang masih hidup untuk berbicara
sejujurnya,” katanya.

Namun, hal itu berbeda dari yang ditulis Soeharto dalam buku Pikiran,
Ucapan, dan Tindakan Saya. Soeharto bersikukuh menyatakan belum pernah
bertemu Sultan sebelum 1 Maret.(rdl/tof)

One response to this post.

  1. Posted by oki rahadianto S.sos on 21 Agustus 2008 at 10:39 am

    SEJARAH yang merupakan konstruksi orba harus diluruskan, supaya anak cucu kita tahu sejarah bangsanya…

    sia-sia dulu waktu kecil belajar sejarah..karena ternyata sejarah tsb sebagian besar telah diselewengkan..

    bagaimana ini???

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: