Kolaborasi Islam dengan Budaya lokal

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

Di Nusantara ini, Islam telah bersenyawa dengan budaya lokal dan ikut membentuk keindonesiaan. Namun, benturan keislaman dan keindonesiaan masih terjadi. Seperti apa? Berikut perbincangan Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) tentang buku Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Nusantara dengan Ahmad Gaus A.F., editor buku tersebut, Kamis (11/1) lalu.

Mengapa dan untuk apa buku Menjadi Indonesia: 13 Abad Eksistensi Islam di Nusantara ini ditulis?
Untuk mendorong dan menghargai cendekiawan agar mentradisikan dunia tulis-menulis. Buku ini juga ingin mendorong digunakannya perspektif budaya dalam melihat dan memahami Islam di Indonesia.

Selama ini, Islam Indonesia lebih banyak dilihat dari pendekatan politik. Padahal, penggunaan pendekatan budaya lebih memperkaya daripada pendekatan politik yang sering parsial, miskin, dan distortif.

Apakah buku ini memuat fakta tentang 13 abad eksistensi Islam di Nusantara, atau sebagaimana dikatakan sejarawan Taufik Abdullah dalam pidatonya saat peluncuran, bahwa buku ini seakan-akan berpretensi hendak memuliakan Islam dalam pentas sejarah Indonesia?
Saya kira, kritik Pak Taufik itu sejalan dengan kritik Mas Dawam Rahardjo yang beberapa waktu lalu menulis ulasan tentang buku ini di sebuah media ibu kota. Pandangannya saya kira sama dengan Pak Taufik Abdullah.

Tapi, seingat saya, Pak Taufik juga mengkritik pandangannya sendiri. Dia melihat bahwa buku ini bukan sekadar sebuah apologi tentang Islam. Sementara Mas Dawam menyebut buku ini tak lebih sebuah apologi.

Penilaian seperti itu sah-sah saja. Tapi, menurut saya, yang namanya apologi selalu didasarkan pada pembelaan yang membabi buta dan bersemangat ideologis. Sementara spektrum buku ini sangat luas karena ditulis sejumlah cendekiawan, seperti rektor-rektor IAIN hampir di seluruh Indonesia.

Di buku ini ada tulisan Anhar Gonggong tentang salah kaprah dalam melihat sejarah terbentuknya Indonesia. Misalnya, mitos tentang persatuan Sriwijaya dan Majapahit, kesalahpahaman tentang Piagam Jakarta, dan mitos tentang kemayoritasan umat Islam. Apa maksudnya?
Ya, itu salah satu perspektif dalam melihat sejarah di Indonesia. Saya bukan sejarawan dan Pak Anhar Gonggong tentu lebih otoritatif untuk bicara mengenai soal itu.

Tapi, sejarah Indonesia memang persoalan yang agak pelik. Di sana banyak sekali problem yang belum jelas betul. Lebih-lebih sejarah Indonesia lahir sebagai sebuah konstruksi politik, sehingga di sana ada distorsi, dikotomi, dll.

Maksudnya, kalau kita bicara tentang keindonesiaan, pada mulanya orang akan merujuk masa-masa puncak seperti kejayaan Sriwijaya, Majapahit, lalu melompat ke masa proklamasi kemerdekaan. Jadi, disederhanakan seperti itu. Saya kira kritik Anhar Gonggong di situ sudah benar. Problemnya, komunitas masyarakat di Indonesia sendiri kurang happy dengan rekonstruksi sejarah seperti itu.

Apakah itu hendak menegaskan bahwa sejarah kejayaan Sriwijaya dan Majapahit itu terlalu dibesar-besarkan dan tidak terlalu penting dalam pembentukan keindonesiaan?
Tidak juga. Dalam pidatonya yang bersejarah sebagai hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, Bung Karno hanya mengutip kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai prototipe nation state bagi Indonesia modern. Soekarno yang mengatakan itu.

Tapi, kritik Anhar Gonggong menyebutnya terlalu menyederhanakan masalah, karena terlalu memokuskan perhatian pada narasi besar sejarah, sehingga abai dalam melihat soal lain yang juga sangat penting.

Contoh narasi besar lain adalah nasionalisme Indonesia yang direduksi dalam wacana yang dilahirkan suatu organisasi bernama Budi Utomo. Padahal, menurut sejarahnya, Budi Utomo itu hanya lahir dari kepentingan kalangan priyayi Jawa.

Di sisi lain, nasionalisme Indonesia yang sesungguhnya justru sudah lama diwacanakan dan diperjuangkan tokoh-tokoh Islam seperti Cokroaminoto, Samanhudi, Agus Salim, dan lain-lain.

Bagian kedua buku ini bicara soal dialektika Islam dengan budaya-budaya lokal yang lebih dulu hidup di Nusantara. Poin apa yang hendak ditegaskan di situ?
Dialektika antara Islam dan budaya lokal itu tidak menghasilkan pemusnahan satu sama lain, tapi justru menghasilkan kolaborasi atau sintesis yang unik. Dengan begitu, Islam Indonesia lahir sebagai Islam yang mentradisi. Misalnya, ada Islam Sunda, Islam Bugis, Islam Minang yang satu sama lain berbeda. Tentu saja pada asasnya dan dalam hal-hal yang prinsipil seperti salat dan puasa, ia tetap sama. Tapi, pada hal-hal yang bersifat muamalat, tradisi mereka berbeda-beda.

Itulah yang juga dibahas Pak Bambang Pranowo tentang Islam di Jawa. Di situ dia ingin membantah tesis antropolog Clifford Geertz yang mendikotomi Islam santri dan abangan. Bagi dia, sebetulnya dikotomi seperti itu tidak perlu seraya mengajukan antitesis berupa “Islam kue lapis”.

Jadi, ada unsur hijaunya, putihnya, merahnya. Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa Islam di Jawa itu yang warna hijau saja atau merah saja. Betapapun hijaunya kue lapis Islam, dia tetap bukan keseluruhan dari kue lapis Islam yang satu itu.

Warna apa yang paling dominan dalam keislaman Indonesia saat ini?
Kalau pertanyaan itu diajukan pada masa Orde Baru, saya kira jawabannya jelaslah kuning, ha-ha. Kita tahu, Golkar pada saat itu didominasi tokoh-tokoh PNI dan mantan Masyumi. Tapi, ketika Orde Baru sudah almarhum, semua warna Islam muncul ke permukaan, sehingga kini tidak bisa lagi dijelaskan warna apa yang paling dominan.

Namun, sebetulnya, persoalan warna tidak terlalu relevan untuk melihat Islam di Indonesia; begitu juga persoalan bentuk. Siapa yang pertama mengasumsikan bahwa hijau itu identik dengan warna Islam?! Itu kan hanya kesepakatan yang tidak ilmiah. Dan, kita tidak ikut dalam konsensus itu.

Bagian ketiga buku ini membahas integrasi keislaman dan keindonesiaan. Apakah masih ada gap antara keislaman dan keindonesiaan sehingga persoalan ini terasa masih mengganjal?
Itu masih terkait persoalan sejarah masa lalu tentang hubungan Islam dan negara. Kita tahu, kita punya sejarah mengenai Piagam Jakarta, juga Majelis Konstituante yang memperdebatkan dasar-dasar negara yang menimbulkan friksi di kalangan tokoh-tokoh perjuangan Indonesia. Ada perdebatan sengit antara kubu nasionalis-religius dan nasionalis-sekuler serta lainnya.

Bahkan, Partai Komunis Indonesia (PKI) juga ada dalam kancah perdebatan itu. Persoalan ditambah lagi dengan sejarah pemberontakan oleh beberapa tokoh Masyumi yang tidak puas dengan dasar negara, sehingga melahirkan kecurigaan negara terhadap loyalitas komunitas Islam terhadap keindonesiaan.

Apakah itu suatu ganjalan dalam sejarah Indonesia? Saya kira tidak juga. Saya lebih suka memahaminya sebagai masalah yang terus-menerus akan dikerjakan. Jadi, ini memang belum selesai dalam arti akan terus berproses.

Sampai kini masih ada pihak-pihak yang menginginkan Piagam Jakarta, cita-cita negara Islam, bahkan khilafah Islam. Anda melihat wacana ini masih juga belum tuntas?
Secara sosiologis, ekspresi keislaman seperti itu, dulu dan sekarang sama saja. Tidak bisa dikatakan besar, tidak pula bisa disebut kecil. Persoalannya, pada masa otoritarianisme Orde Baru, ekspresi Islam seperti itu tidak bisa muncul karena dominannya otoritanisme negara. Setiap ekspresi islamis yang muncul pasti dibungkam. Banyak sekali peristiwa berdarah yang bisa kita sebut untuk kasus perbenturan antara Islam dan negara. Kita bisa menyebut kasus Tanjung Priuk dan sebagainya.

Jadi, bisa dikatakan, komunitas Islam tertentu tetap memperjuangkan aspirasi syariat Islam. Sekarang mereka muncul lagi dengan leluasa karena memang ruang publik setelah reformasi dan kembalinya demokrasi ke tangan rakyat terbuka lagi.

Ruang publik terbuka lebar, kebebasan pers ada di mana-mana, sehingga orang bebas berekspresi dan berkampanye melalui pidato, pengajian, demonstrasi, maupun pemanfaatan media massa modern.

Anda dan Komaruddin Hidayat menulis tentang Islam Indonesia yang diharapkan menjadi model bagi dunia muslim. Abdul Moqsith Ghazali dan Musoffa Basyir bicara soal Islam pribumi yang sedang mencari model keberislaman ala Indonesia. Apakah Islam Indonesia itu memang unik dan berbeda dari tempat lain, sehingga mungkin dijadikan model?
Jangankan dengan belahan dunia yang lain, antara Islam di suatu daerah dengan daerah lain pun berbeda. Islam Indonesia itu, dari Aceh sampai Ternate, memang berbeda.

Saya beberapa hari lalu menghadiri acara pernikahan seorang pria Sunda dengan wanita Sunda. Di situ saya melihat sesuatu yang unik tatkala tradisi lokal berkolabolari dengan agama Islam. Misalnya, tradisi saweran. Ini kan bukan tradisi Islam. Tetapi, di situ juga ada siraman rohani, pembacaan ayat-ayat suci Alquran, dsb.

Ini menunjukkan bahwa tradisi lokal sudah menyatu dengan agama di dalam masyarakat kita. Memang ada saja kelompok Islam yang tidak suka dengan persenyawaan semacam itu. Tetapi, masyarakat kita tetap hidup dengan tradisi, dan dulu pun Islam disebarkan melalui media-media tradisi yang mungkin, terutama di Pulau Jawa.

Jadi, sangat musykil membayangkan kalau tradisi itu dapat dihilangkan seluruhnya atas nama slogan kembali ke teks Islam yang otentik. Saya memahami itu sebagai perimbangan, supaya eksesnya tidak terlalu jauh.

Karena itu, kalau kita harus juga mengemukakan keunikan Islam Indonesia, itu justru karena perbedaannya dengan Arab. Dalam istilahnya Cak Nur, Indonesia adalah negara muslim yang paling sedikit terarabkan (less Arabized). Karena itu, budaya-budaya Indonesia asli tetap dibiarkan hidup dan tidak digantikan seluruhnya dengan budaya-budaya Arab.

Apakah itu berkah bagi Indonesia?
Saya tidak mau bicara soal berkah atau bukan. Mungkin bukan kebetulan kalau Nabi Muhammad dilahirkan di Arab sehingga pada generasi yang paling belakangan, Islam dipahami sebagai agama perlu makin mengarab. Kenyataannya, Islam sudah tersebar begitu pesat di seluruh dunia, dan sudah wajar kalau ia melampaui batas-batas geografis dan budaya Arab.

Dengan begitu, orang Arab sendiri tidak bisa mengklaim diri paling muslim, dan orang-orang luar Arab tidak perlu ragu mengatakan dirinya muslim sejati, meski bukan Arab. Islam kita cukup afdhal tanpa menjadi Arab atau mengikuti semua tradisi Arab.

Bagaimana ungkapan Olivier Roy tentang gerakan Islam yang mengglobal saat ini yang bersemangat menyatukan wajah dan corak Islam dengan aspirasi islamisnya di mana-mana?
Sejak awal, klaim Islam itu memang sebagai agama global. Artinya, ingin menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin). Persoalannya, yang ingin diglobalkan itu apanya? Apakah teori dan anjuran kekerasan atau misi perdamaiannya?

Menurut saya, boleh-boleh saja ideologi globalisasi itu diwacanakan atau dikampanyekan; tapi ideologi yang mana dulu? Kalau ideologi perdamaian, saya kira kita harus mendukung. Tapi, kalau ideologi radikalisme, terorisme, dan kekerasan, saya kira itu harus dilawan.

ditulis oleh : Ahmad Gaus A.F. Jumat, 19 Jan 2007

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

One response to this post.

  1. Just passing by.Btw, you website have great content!

    _________________________________
    Making Money $150 An Hour

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: